Terlahir dari sepasang perantau muda di kota karang, Kupang di akhir tahun 1970, Christian Dan Dadi bertumbuh di kota berkembang yang menjadi tempat pertemuan berbagai budaya lokal, dengan segala kemajemukan tradisinya. Kota itu menjadi tempatnya belajar mencintai perbedaan dan menghargai keberagaman, juga mencintai laut dan segenap budaya pesisir. Namun menjejaki jenjang pendidikan lanjut menghantarnya lebih jauh ke kota-kota lain, seperti Ende, Atambua-Belu, Maumere -Sikka, Jogjakarta yang menambah kedalam pemahamannya tentang kekayaan budaya lokal, keberlainannya dan potensi olahan kreatifnya yang bisa di peroleh dimana saja.
Kecintaannya pada seni sudah muncul sejak belia, dengan belajar memainkan musik, menggambar, lantas menjadi illustrator majalah di sekolah menengah, lantas melukis di jenjang selanjutnya. Kesukaan pada sastra tidak mengherankan sebab Christian dilahirkan di tengah keluarga yang gemar membaca dan mencintai buku. Kedua kebiasaan itu lantas berlanjut pada kesenangannya berkeliling dengan kendaraan kemana-mana untuk menyimak cerita-cerita untuk dikisah kembali atau menangkap pemandangan dan momen unik untuk dilukiskan kembali.
Perjalanan seninya kemudian beranjak semakin serius ketika karya Lukis dan patungnya mulai diikutkan dalam berbagai pameran resmi dan sejumlah karya tulisnya mulai dimuat dalam sejumlah antologi dan jurnal. Sembari bergiat dalam Komunitas Sastra Dusun Flobamora, Christian mengasuh gubuk rupa bernama ‘Derailalang’ di Liliba-Kupang.
