HUDAN NUR lahir di Banjarbaru, Kalimantan Selatan pada 23 November. Sejumlah puisi, cerpen dan esainya pernah dimuat di media, antara lain: Sinar Harapan, Republika, Suara Karya, Kompas, Majalah Sastra Horison, Majalah Dewan Sastera Malaysia, Majalah Majas, Majalah BAHANA Brunei Darussalam, dll. Tahun 2007 mewakili Indonesia pada perhelatan MASTERA (Majelis Sastra se-Asia Tenggara), bidang puisi.
Menerima Penghargaan Sastra dari Gubernur Kalimantan Selatan 2012 dan Wali Kota Banjarbaru 2017. Menulis manuskrip Si Lajang (puisi: 2002), Tragedi 3 November (puisi: 2003), Menuba Laut (puisi: 2016), Enigma (kumcer: 2019), Galuh Kemuning (Cerita Anak: 2019), Jannani (Amsal Banjarbaru di Simpang Waktu) menjadi salah satu Buku Puisi Terpuji Anugerah Hari Puisi Indonesia Yayasan Hari Puisi 2019. Bersama Ali Syamsudin Arsi dan Ariffin Noor Hasby menulis buku 50 Tahun Sastra Banjarbaru (Sejarah dan Jejak Komunitas), Analekta Esai-esai Sastra (2020), Bersama Ananda Perdana Anwar, Gusti M. Setya Ariandi Iman, dan HE. Benyamine menulis buku aghh… dan IRAI (Enggang Gading Pemberani) komik anak (2021), dan menulis buku sejarah Kalimantan bersama Haris Fadhillah WABUL SAWI KALIMANTAN Sejarah Ibu Kota yang Tersembunyi (2024) .
Tentang Hudan Nur sendiri dimuat di Profil Perempuan Pengarang & Penulis Indonesia (Ed. Kurniawan Junaedhie Penerbit KosaKataKita Jakarta: 2012). Pernah bergabung di Kilang Sastra Batu Karaha (2001-2011), mendirikan Sanggar NAGA (Nanang Galuh) Bengsas tahun 2001, bersama Dian Arlika dan Panglima Restu Giffarie tahun 2008 membentuk Komunitas Teras Puitika dan Komunitas AUK (Aku Untuk Kamu). Mengeditori dan membidani puluhan buku lintas genre. Sejumlah karyanya tergabung di lebih 100 bunga rampai, antologi buku bersama. Selain itu, mendirikan Forum Komunikasi Literasi Banjarbaru, Anggota ALINEA, Duta Baca Banjarbaru (2021-2025). Menginisiasi Festival Wabul Sawi.
