MAKASSAR — Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 menggelar lokakarya “Seni dan Pemulihan” bersama Artsforwomen di Gedung B, Fort Rotterdam Makassar, Jumat siang (30/5/2025). Dalam kegiatan ini, peserta akan belajar bersama untuk mengusahakan pemulihan diri melalui praktik-praktik kesenian.
Workshop ini difasilitasi oleh aktivis perempuan Olin Manteiro dan El Bahra yang merupakan seorang akademisi sekaligus praktisi seni. Kegiatan diawali dengan sesi relaksasi berupa meditasi singkat, diiringi musik yang menenangkan. Dalam sesi ini, peserta diajak untuk bersyukur kepada diri sendiri atas pencapaian hidup masing-masing. Setelah itu, peserta memperkenalkan diri dengan menyebut nama dan lagu favorit.
Sesi berikutnya adalah pemetaan masalah melalui metode River of Life dipandu oleh Olin Manteiro. Dia mengajak peserta merefleksikan perjalanan hidup, momen penting, serta tantangan yang membentuk mereka sebagai manusia. “Kenapa saya jadi aktivis perempuan? Karena ada pengalaman atau momen dalam hidup yang membentuk saya memilih pilihan tersebut,” ujar perempuan usia 30 tahun itu.

Setelah mendengarkan beberapa cerita peserta, Olin menanggapi salah satu kisah peserta tentang diskriminasi berbasis gender dalam kepemimpinan organisasi. Dia menekankan pentingnya menulis sebagai sarana menyuarakan pengalaman dan ketidakadilan yang dialami. “Kalau perempuan tidak menulis, siapa yang akan tahu cerita kalian? Bagaimana diskriminasi dalam pemilihan pemimpin bisa diubah kalau tidak ada yang tahu sejarahnya?” katanya.
Kegiatan dilanjutkan pada sesi bergerak bersama lewat dance movement therapy yang dipandu oleh El Bahra. Dia menjelaskan tahapan dalam gerak sebagai terapi dimulai dari menciptakan ruang yang nyaman dan melakukan refleksi diri secara dalam, lalu melakukan inkubasi, yaitu bergerak mengikuti kata hati.
Tahapan berikutnya adalah kontraksi dan pelepasan, yaitu mengolah ketegangan yang tersimpan dalam tubuh. Dia juga menjelaskan mengenai situasi fall and recovery sebagai kesadaran terhadap gravitasi ketika tubuh mengalami ketidakseimbangan karena menghadapi masalah, lalu mengalami proses recovery, dorongan untuk kembali bangkit.
Selanjutnya, El Bahra menyebutkan tentang mirroring, sebagai bentuk empati terhadap situasi yang dirasakan oleh orang lain. “Saat kita melihat ada orang yang melakukan gerakan yang sama, itu bentuk empati, bahwa kita berada di situasi yang mungkin sama tapi dalam bentuk yang berbeda,” tuturnya.
Di akhir proses, ada evaluasi, yaitu ketika peserta menyadari efek dari gerakan yang telah dilakukan. “Tubuh ini menyimpan segala trauma, ketegangan, ketakutan. Dengan menari adalah cara untuk membebaskan tubuh itu,” tutur El Bahra yang telah berkecimpung dalam dunia tari selama kurang lebih 30 tahun.
Penulis : Mutiara
Fotografer : Khiar Rifat

