Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, menghadirkan dua penulis dari Timur Indonesia yang hadir dan menyapa pengunjung MIWF 2025 di hari kedua festival, Kamis (30/05). Bertempat di Area K-1 Fort Rotterdam, sesi diskusi buku “Jasad Sang Pelacur dan Pemakaman Keduanya” karya Christian Dadi, dan “Lalu Kau Menulis Atambua” karya Ricky Ulu, yang dimoderatori oleh Mariati Atkah membawa pembaca menyelami ruang-ruang penuh memori, keyakinan, dan bahasa.
Christian Dadi membuka sesi dengan cerita awal mula buku ini ditulis berangkat dari pengalaman hidup, teman seperjalanan. “Buku ini adalah penggalan hidup saya dalam beberapa tahun. Buku ini tidak akan bisa jadi kalau tidak ada teman-teman saya,” ucapnya dengan hangat.
Sementara itu, Ricky Ulu menjelaskan bagaimana puisinya tumbuh dari kelisanan Atambua yang ia temui sejak kecil. Ia memilih untuk mempertahankan cara bertutur yang akrab, tanpa kehilangan makna. “Bahasa Indonesia itu tidak berlaku di tempat kami secara utuh. Kalau kami pakai aksara kami sendiri, itu bisa jadi lebih jelas,” jelasnya.
Diskusi berlangsung dengan penuh perhatian. Audiens tidak hanya menyimak, tapi juga merespons dengan pertanyaan dan refleksi. Seorang peserta bahkan mengaku pernah merasa malu dengan identitas lokalnya. “Saya orang Bugis, tapi saya pernah malu untuk mengakuinya. Budaya itu bukan tidak baik. Saya saja yang belum paham.” katanya, kesadaran kolektif itu disampaikan secara jujur dan apa adanya.
Kedua penulis menghadirkan suara-suara yang jarang muncul di ruang-ruang sastra arus utama. Karya mereka menjadi pengingat bahwa pengalaman lokal, narasi tradisi, dan kesadaran budaya bisa sangat kuat jika ditulis dari tempat yang jujur dan dekat.
Menjelang akhir sesi, suasana ruang menjadi semakin hening ketika Christian dan Ricky masing-masing membacakan penggalan dari karya mereka. Kata-kata mereka mengalun pelan, menggema bersama angin sore Fort Rotterdam, meninggalkan kesan mendalam pada para pendengar.
Pada sesi tersebut, Christian dan Ricky memperlihatkan bahwa menulis bisa menjadi cara untuk menyusun kembali yang tercerai. Ingatan, bahasa, dan identitas. Dan MIWF 2025 menjadi rumah untuk suara-suara itu tumbuh.
Penulis: Tita Andraena

