Makassar — Peluncuran dan diksusi buku Melihat Laut, karya sembilan alumni Maritime Camp dari The Floating School menjadi salah satu program dalam Makassar International Writers Festival yang dilaksanakan di Benteng Fort Rotterdam, Sabtu (31/5). Buku ini menghadirkan beragam narasi bertema kemaritiman melalui berbagai pendekatan, mulai dari cerpen, jurnal reflektif, esai kritis, hingga narasi fiksi.
Acara peluncuran dipandu oleh Rahmat HM dan menghadirkan editor sekaligus mentor buku, Fikri Yathir, bersama empat penulis yakni Sri Wulan Apriliyanti, Tri Nadia Asrini, Yusril, dan Muhajirin (Andesit).
Dalam pemaparannya, Fikri Yathir menjelaskan bahwa karya-karya dalam buku ini lahir dari pengalaman dan refleksi personal para peserta setelah mengikuti program Maritime Leadership Camp (MLC). Setiap penulis membawa sudut pandang yang berbeda tentang laut, berdasarkan kedekatan mereka dengan kehidupan pesisir.
“Mereka menulis dari pengalaman mereka sendiri, tentang bagaimana program MLC mempengaruhi cara mereka memandang laut, dan bagaimana mereka kini membawa gagasan-gagasan maritim ke dalam tulisannya,” ujarnya
Dia menyoroti minimnya representasi laut dalam narasi sejarah nasional. Menurutnya, kelangkaan ini justru membuka ruang bagi penulis muda dalam Melihat Laut untuk menghadirkan narasi alternatif dari pengalaman hidup mereka di wilayah pesisir. “Tulisan-tulisan ini hadir dari rasa penasaran yang murni, keresahan yang lahir dari pengalaman hidup mereka sendiri di wilayah pesisir. Dan dari sana, mereka mampu menarik isu lokal menjadi bagian dari diskusi yang lebih luas,” pungkas Fikri
Selanjutnya pemaparan penulis, dimulai dari Yusril. Dalam tulisannya, dia mengungkapkan keresahannya terhadap kurangnya pengetahuan kontekstual tentang laut dan lingkungan sekitar yang diterima masyarakat, khususnya generasi muda di daerah pesisir. “Pengetahuan tentang laut itu tidak pernah diajarkan secara dekat dan kontekstual di sekolah,” ungkap Pemuda Pulau Satando itu.
Selain itu, Yusril mengangkat gagasan ilmu pergi yang menyoroti peristiwa banyaknya pemuda yang memilih untuk merantau ke luar daerah, daripada tinggal untuk membangun daerahnya sendiri. “Hal ini disebakan karena pendidikan yang mereka terima, tidak membekali mereka dengan kesadaran untuk turut mengambil peran dalam membangun kampung halamannya,” tuturnya.
Kemudian, Wulan turut membagikan pengalamannya dalam mengikuti MLC. Dia mengatakan bahwa pengalamannya menyusuri pesisir membuatnya menyadari bahwa laut telah memberi banyak manfaat yang belum tentu bisa dibalas manusia. “Saya baru sadar bahwa laut sudah memberikan banyak manfaat untuk kita, tapi apa yang bisa kita berikan untuk laut? Sampah?” katanya.
Dia juga menjelaskan terkait dampak dan bahaya dari mikroplastik. “Sampah-sampah itu bisa hanyut ke laut, dimakan ikan, dan kemudian masuk ke tubuh kita lewat makanan,” tambahnya.
Pengalaman tersebut mendorong Wulan untuk berani menulis ketika mendapatkan tawaran dalam proyek buku oleh The Floating School. “Awalnya saya takut karena ini pengalaman pertama saya menulis, tapi saya merasa apa yang saya lihat perlu diketahui orang lain,” ucap Mahasiswa Keperawatan Universitas Islam Negeri Makassar itu.
Sementara itu, Rini, menyampaikan bahwa dalam tulisannya dia menyoroti perjuangan suku Yolngu di Australia dan komunitas Lima Putra Pesisir dalam menjaga laut dan habitat penyu. “Yang paling ironis adalah musuh utama mereka justru manusia sendiri,” katanya.
Selain itu, dia juga menekankan pentingnya peran perempuan dalam isu-isu lingkungan, terutama di wilayah pesisir. Dia menyadari bahwa perempuan merupakan kelompok yang paling terdampak saat terjadi krisis iklim, sehingga perlu lebih banyak bersuara dan terlibat dalam advokasi lingkungan. “Ketika terjadi krisis iklim atau kerusakan lingkungan, yang paling terdampak adalah perempuan. Jadi kenapa kita tidak bersuara atau mengadvokasikan tentang itu?” tegas Rini.
Di sisi lain, Andesit, mengungkapkan bahwa keikutsertaannya dalam MLC berangkat dari keprihatinannya terhadap praktik reklamasi di pesisir Makassar yang berdampak langsung pada kampung halamannya. “Dulu saya kira abrasi di desa saya itu alami, tapi setelah ikut LMC dan belajar, ternyata pasir untuk reklamasi Makassar diambil dari wilayah saya sendiri,” ungkapnya
Lebih lanjut, Andesit menyoroti lemahnya penegakan hukum terhadap praktik reklamasi ilegal. Dia menyebut pemerintah terkesan memberikan ruang kepada pelaku reklamasi dengan hanya menjatuhkan sanksi administratif. “Jelas-jelas merusak, tapi yang dilakukan hanya diminta lengkapi berkas untuk lanjut pembangunan,” jelas Andesit.
Andesit menilai kebijakan seperti ini sebagai bentuk legalisasi terhadap perampasan ruang hidup masyarakat pesisir, terutama kelompok kecil yang terdampak langsung.
Penulis: Mutiara

