Diskusi “The Butterfly Effect” Soroti Ancaman Deforestasi dan Krisis Iklim terhadap Kupu-Kupu

Makassar, 31 Mei 2025 – Benteng Fort Rotterdam menjadi saksi berlangsungnya diskusi mendalam bertajuk The Butterfly Effect pada Sabtu (31/5). Diskusi ini menyoroti karya fotografi Kurniadi Widodo yang merupakan hasil dokumentasi dari liputan mendalam yang ditulis oleh jurnalis Titah AW untuk Project Multatuli. Kegiatan ini mengajak publik mengenal lebih dekat kehidupan kupu-kupu sekaligus membuka mata tentang ancaman serius yang dihadapi spesies ini akibat deforestasi dan krisis iklim.

Dalam diskusi ini, peserta diajak untuk menyelami keterhubungan antara kupu-kupu dan lingkungan sekitarnya. Tak hanya menjadi simbol keindahan alam, kupu-kupu juga membawa pesan penting tentang keanekaragaman hayati dan dampaknya terhadap kehidupan manusia. “The Butterfly Effect” digunakan sebagai metafora, bahwa makhluk sekecil kupu-kupu bisa membawa perubahan besar terhadap masa depan planet ini.

Titah AW, dalam paparannya, membagikan pengalaman emosionalnya saat mendokumentasikan kehidupan kupu-kupu. Salah satu momen paling membekas baginya adalah saat mengabadikan kupu-kupu bersayap hijau bludru yang kemudian dibunuh untuk dijadikan koleksi. “Saya mengabadikan kupu-kupu itu sebelum akhirnya dibunuh. Sayapnya terlalu indah, tapi nasibnya begitu tragis,” ujarnya lirih.

Titah mengungkapkan kesedihannya saat menyaksikan bagaimana kupu-kupu dibunuh saat baru menetas dan belum sempat terbang. Menurutnya, kupu-kupu yang sudah terbang tidak lagi memiliki sayap yang layak untuk dijadikan koleksi karena rusak akibat aktivitasnya di alam. “Mereka tidak diberi kesempatan hidup,” tambahnya.

Dalam diskusi tersebut, Titah juga mengulas hubungan mutualisme antara kupu-kupu dan bunga soka. Kupu-kupu membutuhkan nektar dari bunga soka, sementara bunga tersebut bergantung pada kupu-kupu untuk membantu proses penyerbukan. Relasi ini menggambarkan keseimbangan ekosistem yang saling mendukung satu sama lain.

Titah menyampaikan kekhawatirannya terhadap populasi kupu-kupu yang semakin menipis. Menurutnya, penurunan populasi kupu-kupu bukan hanya ancaman terhadap satu spesies, melainkan juga ancaman terhadap kestabilan ekosistem secara keseluruhan.

Senada dengan Titah, fotografer Kurniadi Widodo juga membagikan kisah emosional saat menjalani proses pemotretan di sebuah penangkaran. Ia menyaksikan ratusan bangkai kupu-kupu mati berserakan di lantai. “Saat itu saya dihadapkan pada dilema, antara menjalankan tugas sebagai fotografer atau berhenti karena tak tega melihat pemandangan itu,” ungkapnya.

Bagi Kurniadi, pengalaman tersebut bukan hanya menggugah secara emosional, tetapi juga mempertegas bahwa peran dokumentasi tak bisa dilepaskan dari etika dan empati terhadap subjek yang difoto. Ia menekankan pentingnya kesadaran kolektif dalam menjaga populasi kupu-kupu dan lingkungan tempat hidup mereka.

Diskusi ini menjadi ruang refleksi bahwa krisis keanekaragaman hayati adalah persoalan nyata yang tidak bisa dikesampingkan. Ancaman terhadap kupu-kupu adalah cermin dari ketimpangan relasi manusia dengan alam.

Melalui pendekatan visual dan naratif, diskusi ini berhasil membangun empati sekaligus memantik kesadaran tentang pentingnya menjaga alam dan makhluk hidup di dalamnya. Sebagaimana pesan The Butterfly Effect, setiap pilihan yang diambil hari ini akan menentukan arah masa depan kita bersama.

 

Sinta Dian Prawesti

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top