MIWF 2026 Libatkan 300 Relawan dan 12 Juru Bahasa Isyarat: Festival Inklusif dan Antikorupsi

HERALDSULSEL, MAKASSAR — Makassar International Writers Festival (MIWF) kembali digelar di Kota Makassar pada 14–17 Mei 2026 di Fort Rotterdam. Festival sastra internasional yang diinisiasi Rumata’ Artspace sejak 2011 itu melibatkan sekitar 300 relawan dan menghadirkan 12 juru bahasa isyarat demi memperkuat aksesibilitas bagi penyandang disabilitas.

Mengusung tema “Re-co-ordinate”, MIWF 2026 mengajak publik melihat multikrisis global bukan hanya sebagai kegagalan kebijakan, tetapi juga kegagalan membangun relasi dan koordinasi antarkomunitas, ekosistem, hingga bangsa.

Direktur MIWF, Aan Mansyur, mengatakan festival tahun ini tetap berpegang pada nilai dasar yang telah dibangun sejak awal, yakni menjunjung hak asasi manusia, transparansi, keberlanjutan lingkungan, serta inklusivitas.

“Festival ini mengaudit seluruh transaksi, sehingga kami menjadi pelopor terdepan untuk melawan korupsi. Sejak 2019, kami juga memulai festival sebagai kegiatan nirsampah. Semua sampah dihitung, dipilah, dan dikelola oleh Majelis Lingkungan Hidup Denpasar,” ujar Aan.

Selain menerapkan konsep festival rendah karbon dan nir-sampah, panitia juga menghitung emisi karbon yang dihasilkan setiap tahun sebagai bentuk komitmen terhadap isu lingkungan.

MIWF 2026 juga dirancang sebagai ruang aman dan inklusif untuk seluruh kalangan. Panitia bekerja sama dengan berbagai komunitas dan lembaga disabilitas dengan menyediakan 12 juru bahasa isyarat bagi peserta tuli serta relawan pendamping untuk peserta netra.

“Kami ingin semua orang bisa mengakses festival setara dengan publik lain,” tambah Aan.

Festival ini juga secara tegas menolak konsep all-male panel atau forum diskusi yang hanya menghadirkan pembicara laki-laki. Seluruh program diwajibkan menghadirkan keberagaman suara dan perspektif.

Tahun ini, MIWF menghadirkan 144 program selama empat hari pelaksanaan dengan dukungan 135 mitra institusi dari berbagai sektor.

“Tema tahun ini adalah Reconnecting. Meski koordinasi dengan banyak mitra rumit, justru di situlah nilai festival ini: ruang belajar bersama, co-programming, co-designing, dan co-producing,” katanya.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top