Arfan adalah pembuat film dokumenter Indonesia yang debutnya, “Suster Apung”, memenangkan “Film Terbaik” dan “Film dengan Sinematografi Terbaik” di Eagle Awards tahun 2006. Film-film Arfan dikenal memiliki estetika visual yang kuat serta pemilihan karakter yang unik dan penuh warna, sehingga penonton merasa memiliki hubungan pribadi dengan film-filmnya. Debut film dokumenter panjang Arfan, “The Flame” (Bara), ditayangkan perdana di sebuah festival film bergengsi, Visions du Réel Film Festival 2021 di Swiss, DMZ International Documentary Film Festival di Korea Selatan, dan Singapore International Film Festival (SGIFF). Film dokumenter Arfan, "Rabiah dan Mimi”, berhasil memenangkan pitching forum di Tokyo Docs Film Festival tahun 2019 dan berhasil mendapatkan international co-production dengan TBS Sparkle Tokyo dan ditayangkan di NHK Jepang. Arfan juga dipercaya menyutradarai satu episode dokumenter untuk Channel News Asia (CNA) berjudul "The Last Defenders". Film dokumenter panjang Arfan yang kedua, “ININNAWA - An Island Calling”, memenangkan Excellence Roughcut Pitch di DMZ International Film Festival 2022 di Korea Selatan dan menjadi pemenang Piala Citra - Festival Film Indonesia (FFI) 2022 untuk kategori feature dokumenter terbaik. Tahun ini, 2025, Arfan baru saja merilis film dokumenter panjang terbarunya berjudul "The Last Accord: War, Apocalypse and Peace in Aceh" yang bercerita tentang konflik dan perdamaian Aceh dari perspektif diplomasi. Arfan juga baru saja debut fiksi panjang berjudul "Jodoh 3 Bujang" bersama Starvision yang bercerita tentang dunia remaja di tanah kelahirannya, Makassar.
