[Wawancara Khusus Emerging Writer MIWF 2025] NF Aspany: Seorang Pembaca Antusias yang Memilih Menulis

MAKASSAR — “Saya hanya berpikir, tulisan-tulisan saya tidak boleh disimpan di laptop terlalu lama.” Itulah kalimat sederhana yang menjadi titik awal langkah NF Aspany, atau akrab disapa Pany, dalam meretas jalan menjadi Emerging Writer untuk Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025.

Lahir dan besar di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Pany bukan sosok yang sejak awal bercita-cita menjadi penulis. Tapi pertemuannya dengan dunia akademik dan bacaan membuka ruang baru yang tak ia sangka akan membawanya sampai ke panggung sastra nasional.

Sejak kecil, ia sebenarnya menemukan cinta pertama pada buku-buku, sebuah kebiasaan yang ditanamkan oleh inaq (ibu) dan tumbuh menjadi bagian penting dari hidupnya. Di dunia sastra, ia masih berada pada tahap awal perjalanan bagai bayi yang baru belajar berjalan dan belum mengetahui banyak hal. Perjalanan menulis non-fiksinya dimulai pada awal 2023, lantaran terinspirasi oleh sosok yang sangat ia kagumi yakni Prof. Faruk Tripoli, seorang penulis dan akademisi ternama di Indonesia.

Selama dua tahun terakhir, ia telah terlibat dalam beberapa proyek penulisan kolaboratif. Karya terbarunya, sebuah esai kritik sastra, berhasil lolos kurasi MIWF 2025. Selain menulis, Pany kini aktif mengajar sebagai guru privat Bahasa Inggris dan bekerja sebagai website content manager di kota Mataram.

Menulis bagi Pany bukan hanya tentang menghasilkan karya, melainkan juga tentang menemukan makna, merawat ingatan, dan menyuarakan pikiran dalam bentuk yang paling jujur dan personal. Tim Relasi Media MIWF 2025 berkesempatan mewawancarai Pany di tengah-tengah kesibukannya pada Kamis (19/5/2025), menggali lebih dalam tentang proses kreatif dan harapannya untuk sastra Indonesia. Berikut wawancara lengkapnya.

1. Hai! Bisa perkenalkan secara singkat tentang dirimu?

Halo, nama lengkap saya Nur Fitriyanti Aspany dan biasanya akrab disapa Pany. Saya dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB).

2. Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan menulis kamu sebelum terpilih sebagai Emerging Writer untuk MIWF 2025? 

Saya mulai serius menulis non-fiksi awal tahun 2023 karena tuntutan tugas kuliah. Keseriusan ini menjadi kebiasaan. Selesai membaca suatu buku teori/prosa/puisi, saya merasa perlu menulis/mencatat setidaknya apa yang saya dapatkan saat membaca. Kbiasaan ini masih dan akan terus berlanjut.

3. Apa arti menjadi Emerging Writer MIWF 2025 untuk kamu secara pribadi? 

Sesuatu yang tidak terduga. Ini benar-benar di luar ekspektasi saya. Saat saya submit, saya hanya berpikir bahwa tulisan-tulisan saya tidak boleh disimpan di laptop terlalu lama, Sayang aja kalo tulisannya didiemin dan gak diapa-apain.

4. Apa tema atau isu yang paling sering diangkat dalam tulisan-tulisan kamu, dan mengapa itu sangat penting? 

Sastra digital! Ini penting sekali, karena pertama, karena sumber-sumber teks digital itu sangat beragam dan menarik ditelusuri. Kedua, saya yakin bahan bacaan digital bisa jadi jalan masuk bagi teman-teman saya untuk mulai tertarik membaca,” 

5. Apakah identitas lokal atau budaya di tanah kelahiran selalu hadir dalam tulisan esai kamu? Jika iya, bagaimana cara meramu unsur lokalitas ini? 

Sejujurnya, sejauh ini belum. Saat ini, saya sedang menelusuri Babat Lombok (seperti naskah kuno) dan akan mempelajarinya terlebih dahulu.

6. Apakah ada tantangan yang sering kamu hadapi saat menulis, dan bagaimana cara mengatasinya? 

Ada. Salah satu yang paling sulit adalah saya sangat teoretis saat menulis kritik sastra atau tulisan non-fiksi lainnya. Cara mengatasinya yang pertama berdiskusi, lalu kedua membaca bacaan kritik sastra di Tengara.id atau sukusastra.com.

7. Dari semua karya yang pernah ditulis, adakah yang kamu anggap sangat personal? Bisa ceritakan?

Ada. Saya menulis sebuah puisi yang berjudul “Love, Die, Young”, tentang  hidup bersama ekspektasi. Karena ini terlalu personal, saya belum bisa menguraikan makna yang terkandung.

8. Kembali berbicara tentang MIWF, apa kamu pernah mendengar event tersebut? Jika pernah, apa yang terlintas dalam pikiran saat mendengar MIWF?

Pernah. MIWF selalu dibicarakan oleh teman-teman saya. Saya menganggap bahwa MIWF adalah festival yang sangat prestisius dan sampai saat ini, menjadi bagian MIWF masih terasa mimpi bagi saya.

9. Bagaimana kamu melihat peran sastra dalam merespons isu-isu sosial atau politik hari ini? 

Peran sastra sangat diperlukan. Kita lihat saja karya-karya sastra klasik Pramoedya Ananta Toer hingga karya Leila S. Chudori yang sampai saat ini ramai dibicarakan oleh semua kalangan. Karya-karya mereka ini menyentuh dan membuat masyarakat memiliki kesadaran dan pemikiran kritis untuk mencari tau fakta-fakta yang sebenarnya.

10. Tidak lengkap rasanya kalau tidak berbicara tentang inspirasi. Siapa penulis yang paling memengaruhi gaya dan cara menulis kamu? 

Untuk saat ini, saya pikir beliau adalah Prof. Faruk Tripoli, yang menginspirasi dan memengaruhi tulisan saya. Beliau dosen, sangat cerdas dan down to earth. Saat menjadi mahasiswanya, saya selalu minta maaf karena saya ngerasa saya bego banget. Tapi beliau selalu bilang “kamu memiliki semangat belajar yang bagus, saya senang sekali”.

11. Apa harapan kamu terhadap dunia sastra di Indonesia, khususnya bagi para penulis-penulis muda? 

Apakah saya boleh mengatakan ini? Saya ingin mengatakan bahwa “balancing” itu perlu. Tentu hal yang hebat ketika kita banyak menulis karya-karya fiksi. Namun, akan menjadi hebat juga jika didampingi dengan menulis esai/kritik sastra.

12. Pertanyaan terakhir, bisa sebutkan tiga judul buku favorit kamu?

The Metamorphosis” karya Franz Kafka, “Laut Bercerita” karya Leila S. Chudori, dan “Musim Kupu-Kupu Kuning” karya Yusi Avianto Pareanom.

Di MIWF 2025, NF Aspany menjadi moderator di program “Landless Generation” pada Minggu 1 Juni 2025 pukul 10.00 – 12.00 WITA, serta bertindak sebagai pembicara dalam “In Conversation with Emerging Writers MIWF 2025” (juga di hari yang sama) pukul 16.00 – 18.00 WITA.

Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, termasuk program Emerging Writers, didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) RI, melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

 

Penulis : Trititia Kurniati

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top