[Wawancara Khusus Emerging Writer MIWF 2025] Suara Puisi dari Timur: Jejak Wahyuddin D. Gafoer Menuju MIWF 2025

MAKASSAR – “Motivasi datang dari para pelaku sastra yang terlibat dalam MIWF,” ungkapan inilah yang akhirnya mengantar sosok Wahyuddin D. Gafoer (atau dikenal dengan nama pena WD Gafoer) terpilih sebagai salah satu Emerging Writers di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025.

Sempat menempuh pendidikan tinggi di Makassar sebelum pindah di Yogyakarta sejak 2015, ia mulai menekuni dunia kepenulisan secara mandiri. Ini disebut sebagai pilihan sadarnya terhadap jalur kerja intelektual yang ia sebut “lebih asyik, kalem dan merdeka.” Di Kota Pelajar, penulis kelahiran Ternate tersebut membentuk komunitas Sastranoate pada tahun 2016.

Karya pertamanya, “Munira” (Jejak Pustaka) terbit pada 2023. Setahun berselang, sosok yang akrab disapa Udi tersebut menerbitkan “Gapolida”, buku puisi dalan dua bahasa yakni Indonesia dan Ternate. Tak cuma puisi, ia gemar menulis cerita pendek dan esai yang tersebar di berbagai media.

Pada Selasa pagi (20/5/2025), Tim Relasi Media MIWF berkesempatan berbincang secara daring dengan Udi. Pria yang juga aktif sebagai desainer grafis tersebut banyak menjelaskan tentang proses kreatifnya, serta hal-hal yang memengaruhi proses pengkaryaan. Semuanya bisa disimak dalam artikel wawancara khusus ini.

1. Hai, bisa perkenalkan dirimu secara singkat?

Saya Wahyuddin D. Gafoer, lahir di Ternate, Maluku Utara. Teman-teman biasa memanggil saya Kak Udi.

2. Bagaimana awal perjalanan menulismu hingga terpilih sebagai Emerging Writer di MIWF 2025?

Awalnya saya tertarik menulis karena banyak membaca. Dulu, saya sering menulis caption tentang cinta dan kehidupan romantis. Waktu itu ada insiden yang membuat saya lebih banyak waktu di rumah, menulis jadi semacam hiburan. Saya mulai menulis cerita pribadi dan membagikannya di media sosial.

Tahun 2021, saya mulai mengirim puisi ke beberapa media. Salah satunya ke omongomong.com dan puisi saya berhasil dimuat di rubrik puisi. Dari situ, saya mulai serius menekuni puisi, memperbanyak bacaan, dan mencoba lebih konsisten.

Tahun 2022 saya mengirim sekitar 10 puisi untuk MIWF tapi belum berhasil. Tahun 2023, saya kirimkan buku puisi debut saya berjudul Munira dan itu belum terpilih juga. Nah, kemarin yang ketiga saya mengirim sebuah naskah puisi dan akhirnya terpilih di tahun ini sebagai Emerging Writer. Saya senang sekali karena MIWF ini adalah tujuan bagi kebanyakan penulis pemula

3. Apa arti menjadi Emerging Writer MIWF 2025 untukmu secara pribadi?

Saya pertama kali mengenal MIWF lewat tulisan-tulisan Faisal Oddang. Saya terpukau dengan caranya menulis dan tergerak. Selain itu, banyak pelaku sastra hebat seperti Aan Mansyur juga terlibat di MIWF.

Secara kelembagaan, bagi saya, MIWF bukan hanya ruang kompetisi, tapi juga tempat bertumbuh. Karya-karya kita tak hanya dibaca juri, tapi juga khalayak luas. Dengan pengalaman-pengalaman para writers di MIWF, itulah motivasi saya untuk terus merasa berupaya untuk bisa menulis seperti mereka.

4. Apa tema yang paling sering kamu angkat dalam karya-karya kamu, dan kenapa itu penting?

Tema mothering (yang juga jadi tema di MIWF 2024, red.) atau keibuan dan lokalitas banyak hadir dalam puisi-puisi saya. Dalam buku “Munira”, saya banyak menulis tentang asal-usul ibu saya dari Halmahera yang merantau ke Ternate. Bahasa lokal juga saya masukkan ke dalam puisi saya seperti di buku kedua saya.

5. Apakah identitas lokal selalu hadir dalam karyamu? Bagaimana kamu meramunya?

Ya, seperti yang saya katakan sebelumnya, saya juga banyak mengangkat tema-tema lokal yang paling dekat dengan saya.

6. Apakah ada ritual khusus sebelum menulis?

Tidak ada kebiasaan khusus. Saya menulis puisi saat kalimat itu datang sendiri. Saya tidak ingin kehilangan unsur magis dalam puisi. Tapi secara teknis, saya tetap belajar banyak dari buku dan puisi-puisi lain.

7. Apa tantangan terbesar dalam menulis, dan bagaimana menghadapinya?

Mungkin ini tantangan semua penulis bagaimana membawa kebaruan dalam karyanya. Memperbaharui wacananya, temanya. Tantangan yang keras bagi saya itu, karena sekarang sudah banyak penyair-penyair muda yang mulai bermunculan yang sangat kontemporer dan populer. Mereka punya daya jelajah dan banyak platform untuk bisa membagikan karya. Saya sebagai seorang penyair, kita dituntut bagaimana bisa beradaptasi dengan situasi, bagaimana kita menghadirkan kebaruan. Bukan untuk berkompetsi dengan mereka tapi untuk meningkatkan kualitas karya kita dalam situasi kekinian.

8. Apakah ada karya yang paling personal bagimu?

Ada. Salah satunya puisi yang saya tulis saat berada di Jogja, berkaitan dengan sebuah insiden yang sangat membekas.

9. Buku apa saja yang sudah kamu terbitkan?

Buku pertama saya berjudul “Munira”. Buku kedua adalah “Gapolida”, buku dwibahasa. Salah satu puisinya berjudul Hiri, yang mengambil nama dari pulau kecil di selatan Ternate.

10. Tema MIWF tahun ini adalah “Hand and Land”. Apa maknanya bagi kamu sebagai penulis?

Temanya lumayan berat, apalagi tema puisi-puisi saya tidak terlalu resisten. Tema yang digarap oleh MIWF kali ini bagi saya cukup berat. Ini tentang perampasan ruang hidup, tentang reforma agraria dan lain sebagainya.

11. Bagaimana kamu melihat peran sastra dalam merespons isu sosial atau politik?

Sastra bukan secara langsung menjadi sesuatu yang bisa merubah kondisi saat ini, tapi menjadi media menuju kesadaran batin. Ia menyentuh sisi manusiawi dari pembahasan isu-isu yang kompleks seperti sosial dan politik ini.

12. Siapa penulis yang paling memengaruhi gaya dan caramu menulis?

Saya suka Gabriel Garcia Marquez dan Sutardji Calzoum Bachri.

13. Apa makna menulis bagimu secara emosional atau spiritual?

Menulis seperti tempat cerita paling jujur. Saat menulis, saya bisa lebih memahami diri sendiri. Khususnya puisi itu dekat dengan saya. Saat saya mengobrol dengan teman atau bahkan saat beribadah, kalimat-kalimat puisi itu bisa hadir dan ada momen dimana saya bisa menyatukan tulisan saya tersebut.

14. Apa harapanmu terhadap dunia sastra Indonesia, terutama bagi penulis muda?

Buat penulis muda, intinya adalah berani berani menunjukkan karyanya. Siap menerima kritik agak kita bisa terus berkembang.

15. Terakhir, bisa sebutkan tiga buku favoritmu?

Beberapa buku fiksi seperti “Seratus Tahun Kesunyian” karya Gabriel Garcia Marquez, “Arsitektur Hujan” karya Afri Jamaris (kumpulan puisi) dan “Batu Matahari” karya Octavio Paz.

Di MIWF 2025, WD Gafoer menjadi moderator di program “Anatomy of a Land Grab” pada Jumat 30 Mei 2025 pukul 10.00 – 12.00 WITA, serta bertindak sebagai salah satu pembicara dalam “In Conversation with Emerging Writers MIWF 2025” (juga di hari yang sama) pukul 16.00 – 18.00 WITA.

Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, termasuk program Emerging Writers, didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) RI, melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

 

Penulis : Nur Septiani A.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top