Diskusi Novel “Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut” Ungkap Isu Lingkungan dan Perempuan

MAKASSAR – Diskusi novel “Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut” karya Dian Purnomo digelar di Gedung K, dalam rangkaian Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 pada Sabtu pagi (31/5/2025) sekaligus hari ketiga penyelenggaraan festival literasi tahunan tersebut. Acara ini dipandu oleh Maria Pankratia dan dihadiri para pembaca, pemerhati sastra, serta aktivis lingkungan.

Novel terbitan Gramedia Pustaka Utama (GPU) pada 2023 ini mengangkat kisah para perempuan yang menjadi garda terdepan dalam menjaga lingkungan. Berlatar di Sangihe, Sulawesi Utara, novel ini memotret pengalaman perempuan menghadapi perusakan lingkungan akibat aktivitas tambang. Dian Purnomo selaku penulis menyebutkan bahwa buku ini ditulis setelah riset panjang, menyoroti minimnya kesadaran hukum dan rendahnya perlindungan lingkungan di wilayah tersebut.

Saat ditanya bagaimana Dian memandang peran perempuan, Dian mengakui bahwa perempuan memiliki peran yang sangat penting. “Perempuan menjadi garda terdepan, di sana mereka memasak, membersihkan rumah, dan memastikan meja makan bersih. Tapi, ketika izin lingkungan dicabut, mereka juga yang pertama maju,” kata penulis kelahiran Salatiga tersebut.

Novel ini menampilkan perempuan yang berjuang mempertahankan tanah kelahiran mereka, meski dihadapkan pada segala bentuk tekanan dan intimidasi. Dian juga menuturkan bahwa ia menghadirkan tokoh utama dalam novel ini adalah Shalom, seorang anak muda yang menjadi simbol perjuangan generasi baru.

“Kesadaran lingkungan dan hukum masih rendah. Anak muda harus sadar agar Sangihe tidak hancur duluan,” tutur Dian, yang memiliki latar belakang sebagai periset isu-isu sosial dan lingkungan. Dalam diskusi, Dian juga berbagi tantangan saat menulis novel ini. “Aku ingin karya ini tetap menjadi sastra yang hidup, bukan sekadar laporan data. Aku menulis untuk menyadarkan pembaca,” ujarnya.

Bahkan, Dian mengaku pernah berurusan dengan aparat keamanan. “Kami sempat dilaporkan karena aksi protes di tanggal 17 Agustus. Perusahaan besar datang dengan ekskavator, mengklaim proyeknya,” jelasnya.

Dian menekankan pentingnya peran sastra sebagai jembatan kesadaran. “Ketika kita memberi nama dan tempat pada cerita, dampaknya berbeda. Buku ini membuka mata dan memberikan pemikiran jangka panjang,” kata mantan pekerja radio tersebut.

Novel “Perempuan yang Menunggu di Lorong Menuju Laut” menjadi salah satu karya sastra yang mengangkat isu sosial, lingkungan, dan peran perempuan secara mendalam. Dian, yang juga hadir sebagai panelis di beberapa program MIWF 2025, terus mendorong anak muda untuk peduli dan bertindak. “Sastra punya fungsi strategis. Aku suka sastra. Kalau mau mengubah dunia, ubahlah anak mudanya,” tutupnya.

 

Penulis: Nur Septiani A.

Fotografer : M. Yasin Ahmad

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top