Selamat Berpetualang! Perjalanan Samiam Berlanjut di Buku Kedua “Sepasang Elang dari Diyarbakir”

MAKASSAR — Penulis asal Bandung, Zaky Yamani hadir di Makassar Internasional Writers Festival (MIWF) 2025 dalam diskusi novel terbarunya yang berjudul “Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa: Sepasang Elang dari Diyarbakir” yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU) tahun lalu. Buku tersebut merupakan lanjutan dari “Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa” (GPU) yang rilis di tahun 2021. Hadir bersama Zaky yakni pegiat literasi asal Makassar yakni Melania Nirwan selaku moderator di Benteng Fort Rotterdam ruang K-1, Sabtu pagi (31/5/2025).

Keinginan Zaky untuk menulis tentang Sunda menjadi titik awal perjalanan kisah Samiam. Ia menelusuri sejarah tentang Sunda dengan dunia secara luas untuk dijadikan panggung cerita. Lalu lahir tokoh seseorang dari Lisboa, kota pelabuhan terkemuka Portugal bernama Samiam yang suatu hari melakukan perjalanan mustahil mencari jati dirinya ke tanah Sunda.

“Setelah baca-baca beberapa buku, ternyata kerajaan Sunda pernah berhubungan diplomatis dengan kerajaan Portugal. Dari situlah terpikir, wah kayaknya keren juga nih kalau bikin tokoh yang peranakan Sunda-Portugal. Akhirnya saya bikinlah tokoh Samiam ini,” jelasnya.

Kemudian mantan jurnalis surat kabar Pikiran Rakyat tersebut mulai membandingkan tokoh Samiam dari buku pertama dan buku kedua, memperlihatkan bagaimana perjalanannya melintasi wilayah-wilayah di Timur Tengah membuatnya tokoh tersebut lebih matang lewat pengalaman yang dilalui dan refleksinya terkait geopolitik dan agama di sekitarnya.

Mengenai proses menulisnya, Zaky mengungkap bahwa ia banyak melakukan riset pada buku kajian dan penelitian sejarah, termasuk arsip persuratan antara kerajaan Sunda dan Portugal. Ia juga mengaku terbantu dengan program residensi penulis Indonesia di Portugal yang diselenggarakan Komite Buku Nasional pada tahun 2017.

Lebih lanjut, pemenang pertama Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2021 tersebut menerangkan bahwa catatan-catatan sejarah zaman dahulu tidak sistematis. Alih-alih menghambat kegiatan menulis, Zaky memanfaatkan kondisi itu untuk bercerita dengan imajinasinya.

“Sebagai seorang penulis fiksi, saya melihat justru itu sebuah peluang. Karena saya bisa mengisi keterceceran itu, sejarah yang terpisah-pisah itu dengan imajinasi. Walaupun saya tetap berpijak pada alur sejarah,” pungkasnya.

Diskusi yang berlangsung selama sejam tersebut diikuti oleh 20 peserta sekaligus penggemar yang penasaran dengan kelanjutan kisah Samiam. Tak lupa, Zaky juga membeberkan informasi terkait dengan buku ketiganya, sekaligus penutup trilogi kisah Samiam, yang masih dikerjakan dan direncanakan terbit pada tahun 2026.

 

Penulis : Muh. Yasril Aldilah Sudarmono

Fotografer : Eghi Algipari

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top