MAKASSAR – Makassar International Writers Festival (MIWF) menggelar diskusi mengenai novel dan film “Home Sweet Loan” bersama penulisnya Almira Bastari dan kritikus film Nurul Mizan Asyuni (Uul) di Gedung J Benteng Rotterdam, Minggu sore (1/1/2025). Diskusi ini membahas proses adaptasi cerita dari tulisan ke layar lebar serta tantangan dan pendekatan masing-masing medium.
Almira menjelaskan bahwa perbedaan antara film dan novel adalah hal yang wajar, seperti pada franchise Harry Potter yang tetap mempertahankan beberapa bagian identik meski ada penyesuaian. Menurutnya, buku tetap menjadi medium yang kuat dalam menyampaikan cerita. Meski sempat khawatir apakah unsur komedi dalam novelnya akan tetap lucu saat diadaptasi ke film, Almira bersyukur karena nuansa humor tetap berhasil ditampilkan. Bagian yang paling berbeda menurutnya adalah ending film yang berbeda dari versi novel.
“Versi novel lebih realistis, sementara versi film lebih ironi karena nggak mungkin ada orang yang misalnya enggak sejahtera-sejahtera amat langsung resign dan mulai usaha, tapi nggak punya beberapa kali pengalaman. Sementara versi film juga memberi pelajaran, lebih ada di titik ironi, menggambarkan kelas menengah yang sebenarnya,” ungkap Almira.
Nurul Mizan Asyuni, yang akrab disapa Uul, menambahkan bahwa inti dari adaptasi bukanlah meniru seluruh isi buku, melainkan menjaga gagasan ceritanya. Ia menyoroti bahwa meski ada modifikasi seperti adegan pertengkaran Kaluna, pesan tentang tantangan sandwich generation tetap dipertahankan.

“Proses mengkajinya penting disoroti, bukan untuk membandingkan mana yang lebih baik, apalagi menggugat bahwa film enggak sesuai sama novelnya. Adaptasi itu setia sama gagasan film, tapi gagasan ceritanya itu harus tetap ada,” tutur Uul.
Setelah menonton film Home Sweet Loan, Uul mengapresiasi bagaimana isu sandwich generation dikemas secara sinematik. Ia menilai film ini relevan bagi generasi 2000-an dan menyampaikan pesan besar lewat hal-hal sederhana. Baginya, rumah dalam film ini tak hanya sekadar tempat, melainkan simbol kebebasan.
Almira mengungkapkan film Home Sweet Loan mendapat pujian tinggi dari penonton karena berhasil menggambarkan novel meski dengan keterbatasan spesifikasi syuting. Setelah menonton berkali-kali, Almira merasa semua karakter diperankan sangat pas dan sesuai harapan. Film ini juga mampu menghadirkan emosi yang kuat dan menyentuh, sehingga diyakini akan menemukan penontonnya, seperti halnya novel yang telah menemukan pembacanya.
Menutup diskusi, mereka menegaskan bahwa pilihan membaca novel terlebih dahulu atau menonton film sepenuhnya bergantung pada kebutuhan masing-masing. Hal terpenting adalah mengapresiasi keduanya. Film memberikan pengalaman visual yang kuat, sementara buku mengasah perasaan dan imajinasi. Meskipun menggunakan medium yang berbeda, keduanya tetap menyampaikan gagasan yang sama.
Penulis : Fadhiah Nadhilah Irhad
Fotografer : A. Ziyaul Haq

