MAKASSAR – Peluncuran buku bertajuk Gratis Ongkir: Keindahan dan Sengkarut Bahasa karya Darmawati Majid menjadi salah satu agenda penting dalam perhelatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025. Acara peluncuran berlangsung pada Jumat (30/5/2025) di Gedung K-3, Benteng Rotterdam, Kota Makassar, dan dihadiri puluhan peserta dari berbagai kalangan.
Acara berlangsung dalam suasana akrab dan interaktif, dipandu oleh moderator Wawan Kurniawan. Setelah sesi pemaparan, peserta terlibat dalam diskusi terbuka melalui sesi tanya jawab, yang kemudian diakhiri dengan sesi foto bersama sang penulis.
Dalam pemaparannya, Darmawati mengungkapkan bahwa Gratis Ongkir lahir dari kegelisahan pribadi terhadap fenomena berbahasa yang ia temui dalam kehidupan sehari-hari, terutama selama masa pandemi COVID-19. Ia mulai menulis buku ini sejak tahun 2020 dan menyelesaikannya pada 2024, setelah melakukan berbagai pengamatan terhadap cara orang menggunakan Bahasa Indonesia, baik di ruang privat maupun publik.
“Buku ini adalah keresahan saya yang saya tulis sejak tahun 2020 ketika pandemi terjadi sampai 2024. Isinya seputar fenomena berbahasa di keseharian. Saya mengamati bagaimana Bahasa Indonesia digunakan di media sosial, di percakapan, hingga status WhatsApp teman-teman,” ujar Darmawati kepada para peserta yang hadir.
Salah satu contoh fenomena yang disoroti dalam buku tersebut adalah penggunaan kata “kebetulan” yang menurutnya kerap digunakan tanpa logika bahasa yang tepat. Ia menjelaskan bahwa frasa seperti “kebetulan saya kerja di Gramedia Pettarani” sering kali mengandung makna samar, seolah pekerjaan tersebut terjadi tanpa perencanaan atau proses, padahal ada banyak faktor yang menentukan, seperti koneksi atau sistem rekrutmen.
“Apakah benar kalian bekerja di sana karena kebetulan? Atau ada faktor orang dalam, koneksi, atau karena memang kemampuan kalian? Kata ‘kebetulan’ jadi menarik karena sering digunakan untuk menutupi sesuatu atau menghindari penjelasan,” tambahnya.
“Ini menggambarkan bagaimana satu kata dapat digunakan dengan keliru dan tidak sesuai dengan logika berbahasa. Bahasa kita seharusnya mencerminkan identitas dan cara berpikir kita,” lanjutnya.
Dalam buku ini, Darmawati tidak hanya membedah kata demi kata, tetapi juga menyajikan esai-esai yang mengajak pembaca untuk melihat Bahasa Indonesia secara lebih kritis dan kontekstual. Ia menggunakan pendekatan reflektif dengan menghubungkan praktik berbahasa dengan identitas sosial, budaya, dan bahkan politik masyarakat.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa buku ini ditujukan tidak hanya untuk kalangan akademik, seperti dosen dan guru Bahasa Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat luas dari berbagai latar belakang ilmu. Menurutnya, bahasa adalah alat komunikasi utama yang digunakan dalam semua bidang kehidupan, dari agama, sains, hingga teknologi.
“Target pembaca tentu teman-teman dosen dan guru Bahasa Indonesia. Tapi karena bahasa sangat dekat dengan keseharian, semua dosen dan guru dari berbagai keilmuan juga sebaiknya membaca buku ini. Buku ini tidak hanya mengupas Bahasa Indonesia, tetapi juga persoalan bahasa sebagai identitas,” jelasnya.
Darmawati menekankan bahwa bahasa memiliki peran sentral dalam membentuk pemahaman sosial dan budaya seseorang. Ia mengajak masyarakat untuk lebih peka terhadap cara mereka berbahasa, termasuk dalam percakapan sehari-hari maupun unggahan di media sosial.
“Komunikasi, agama, sains, teknologi—semua itu tentu menggunakan bahasa dalam keseharian. Baik saat menulis, berbicara, maupun saat mengunggah status di media sosial. Bahasa adalah identitas teman-teman,” ujarnya.
Dalam sesi akhir, Darmawati mengungkapkan harapannya agar buku ini dapat menjadi pemicu bagi lebih banyak orang untuk menulis esai tentang bahasa. Ia ingin lahir lebih banyak karya yang memperhatikan fenomena linguistik di sekitar dan mendorong masyarakat untuk peduli terhadap keberlanjutan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.
“Harapan saya sebenarnya ingin mengajak orang lebih banyak menulis tentang esai bahasa, lebih peduli tentang fenomena bahasa di sekitarnya. Sehingga makin banyak teman-teman yang memperhatikan Bahasa Indonesia,” kata Darmawati.
Buku Gratis Ongkir: Keindahan dan Sengkarut Bahasa bisa diperoleh di stan Semesta Buku selama pelaksanaan MIWF 2025 berlangsung. Penerbit menawarkan potongan harga hingga 20 persen untuk setiap pembelian buku selama festival.
Peluncuran buku ini menjadi salah satu kontribusi penting dalam perayaan literasi di MIWF 2025. Tidak hanya menambah ragam karya yang diluncurkan, tetapi juga memperkaya diskusi seputar bahasa sebagai alat ekspresi dan refleksi diri di tengah dinamika sosial budaya masyarakat modern.
Penulis: Andi Fatur Rezky Aar

