MAKASSAR, INTERAKSINEWS.ID — Polemik film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kini merembet ke Kota Makassar. Situasi itu memanas setelah muncul poster penolakan terhadap kedatangan sutradara film tersebut, Dandhy Dwi Laksono, yang beredar luas di media sosial. Poster bertuliskan “Masyarakat Makassar Menolak Kedatangan Dandhy Dwi Laksono” itu ramai tersebar melalui grup percakapan WhatsApp hingga Instagram. Dalam narasi poster disebutkan bahwa film Pesta Babi dianggap sebagian pihak mengandung pesan yang berpotensi memprovokasi dan memecah persatuan masyarakat.
Polemik tersebut muncul di tengah sorotan publik terhadap film dokumenter karya Dandhy Dwi Laksono dan Cypri Jehan Paju Dale yang sebelumnya ramai diperbincangkan usai sejumlah agenda nonton bareng dibubarkan di beberapa daerah.
Film itu mengangkat persoalan masyarakat adat Papua yang menghadapi ekspansi proyek strategis nasional di sektor pangan dan energi. Dalam sinopsis resminya, proyek tersebut disebut berpotensi mengubah sekitar 2,5 juta hektar hutan Papua menjadi kawasan perkebunan industri atas nama ketahanan pangan dan transisi energi.
Film Dokumenter Papua dan Gelombang Penolakan Nobar
Film Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita merekam perjuangan masyarakat adat di Papua Selatan dalam mempertahankan tanah leluhur mereka dari ekspansi industri dan operasi militer.
Dalam dokumenter tersebut, bentuk perlawanan masyarakat dilakukan melalui pemasangan salib raksasa dan palang adat sebagai simbol penolakan terhadap masuknya perusahaan ke wilayah adat.
Sebelumnya, agenda nobar film tersebut dilaporkan dibubarkan di sejumlah daerah, di antaranya di Ternate dan di Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Polemik mengenai ruang diskusi publik dan kebebasan berekspresi juga pernah menjadi perhatian masyarakat Sulawesi Selatan, sebagaimana berbagai isu sosial yang ramai diperbincangkan publik melalui kanal berita daerah.
Prof Zainal Arifin Mochtar: Makassar Tak Seharusnya Takut Film
Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, Zainal Arifin Mochtar, turut menanggapi munculnya poster penolakan terhadap Dandhy Dwi Laksono di Makassar.
Dosen yang akrab disapa Uceng itu mengaku terkejut melihat adanya penolakan terhadap sebuah film dokumenter di kota yang dikenal memiliki tradisi intelektual kuat.
“Melihat ini dikirimkan oleh seorang teman, saya nyaris nda percaya. Kok bisa? Anak-anak di Kota Makassar, dari suku Bugis maupun Makassar takut dengan film?” ujar Prof Zainal Arifin Mochtar, Jumat (15/5/2026).
Alumni SMA Negeri 1 Makassar tersebut kemudian mengutip pandangan antropolog Prancis, Christian Pelras, mengenai karakter masyarakat Bugis yang memiliki tradisi intelektual kuat, budaya kehormatan dominan, dan peradaban maritim yang kompleks.
Ia juga menyinggung pandangan sejarawan Amerika, Leonard Andaya, yang menggambarkan masyarakat Makassar memiliki identitas politik kuat dan karakter militansi tinggi.
“Takut dengan film kayaknya bukan mereka,” ujar Uceng.
Menurutnya, Makassar tidak seharusnya menjadi kota yang anti terhadap ruang diskusi maupun karya dokumenter.
“Saya yakin kota Makassar tak sejumud itu. ‘Kupare’ngkeng ri boko, kupada’ngkeng ri munri’ adalah pegangan keberanian untuk teguh pada kebenaran. Tentu, tak ada alasan takut pada film,” tegasnya.
Dandhy Dwi Laksono Pastikan Tetap Datang ke Makassar
Di tengah polemik yang berkembang, Dandhy Dwi Laksono menegaskan dirinya tetap akan berkunjung ke Makassar dalam waktu dekat.
“Saya tetap akan datang ke Makassar,” kata Dandhy singkat.
Pernyataan tersebut sekaligus menandai bahwa polemik film dokumenter Pesta Babi masih berpotensi memicu perdebatan lebih luas mengenai kebebasan berekspresi, ruang diskusi publik, hingga batas antara kritik sosial dan sensitivitas politik di Indonesia.

