JAKARTA, KOMPAS.TV – Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia melalui Tim Promosi Sastra dan MTN Bidang Sastra menggelar kolaborasi dengan Prancis dalam perhelatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026.
Mengusung tema besar “Re–co–ordinate”, festival ini menghadirkan fokus khusus bertajuk “MIWF meets France”.
Langkah ini merupakan bagian dari implementasi Deklarasi Borobudur mengenai strategi budaya bersama yang disepakati oleh Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, pada bulan Mei lalu selama kunjungan kenegaraan Macron ke Indonesia.
Partisipasi Prancis dalam MIWF juga menjadi salah satu poin dalam agenda pertemuan baru-baru ini antara Menteri Fadli Zon dan Catherine Pegard, Menteri Kebudayaan Prancis, yang digelar di Paris pada tanggal 22 April lalu.
Kehadiran delegasi Prancis terdiri dari penulis sekaligus Presiden Académie Goncourt, Philippe Claudel, serta Karina Hocine, editor dan sekretaris jenderal dari penerbit kenamaan asal Prancis Éditions Gallimard, dipandang oleh Kementerian Kebudayaan sebagai peluang emas untuk memperkuat posisi sastra Indonesia di kancah global.
“Melalui dialog lintas bangsa ini, pemerintah berharap dapat menentukan ulang koordinat relasional yang lebih erat antara penulis, penerbit, dan pembaca dari kedua negara,” demikian keterangan Tim Promosi Sastra dan MTN Bidang Sastra yang diterima Kompas.tv, Rabu (13/5/2026).
Dalam festival ini, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Y.M. Fabien Penone, dijadwalkan akan hadir dan memberikan pidato pembukaan MIWF pada 14 Mei 2026.
Rangkaian program yang berkaitan dengan keterlibatan Prancis akan dimulai pada Kamis, 14 Mei 2026 pukul 10.00 WITA melalui diskusi bertajuk “Surealisme dan Magis dalam Sastra”.
Sesi tersebut dijadwalkan menghadirkan Philippe Claudel bersama penulis Indonesia, Faisal Oddang.
Masih di hari yang sama, pukul 13.30 WITA, akan digelar sesi “Meet The Publisher” yang mempertemukan Karina Hocine dengan sejumlah penerbit Indonesia seperti Marjin Kiri, KPG, GPU, Sokong, dan BaNANA.
Pertemuan ini diharapkan membuka peluang karya-karya Indonesia untuk diterbitkan di Prancis, begitu pula sebaliknya.
Memasuki hari kedua pada Jumat, 15 Mei 2026, fokus pembahasan akan bergeser ke isu krisis ekologi melalui panel “Hidup dalam Marabahaya” yang dijadwalkan berlangsung pukul 16.00 WITA.
Dalam sesi tersebut, Philippe Claudel bersama aktivis lingkungan Rossy You dan Faris Gaban akan membahas posisi manusia di tengah ancaman ekosida.
Tema ini sejalan dengan semangat “Re–co–ordinate” yang menyoroti perlunya memetakan ulang arah pandang terhadap persoalan genosida, perampasan ruang hidup, hingga imperialisme budaya yang masih berlangsung di berbagai belahan dunia.
Tim Promosi Sastra juga akan menyelenggarakan Networking Night pada Jumat malam. Agenda ini dirancang untuk membuka peluang kolaborasi kreatif di masa depan dengan cara berjejaring langsung dengan para pelaku sastra.
Acara ini tidak hanya mengundang para professional sastra, tetapi juga para penulis muda dari Emerging Writer MIWF 2026.
Lewat MTN Bidang Sastra, dua penulis mapan Indonesia yaitu Avianti Armand dan Ziggy Zezsyazeoviennazabriezkie dihadirkan di MTN IkonInspirasi Bidang Sastra untuk berbagi pengalaman mengenai karier kepenulisan mereka pada Jumat, 15 Mei, pukul 19.20 WITA.
Tak berhenti di situ, MTN juga terlibat aktif dalam memfasilitasi keikutsertaan tujuh penulis muda pilihan dalam program Emerging Writers MIWF 2026.
Ini adalah program reguler tahunan yang mendedikasikan dukungan bagi pertumbuhan bakat-bakat terbaik di bidang sastra.
Dukungan ini sejalan dengan misi Tim Promosi Sastra dalam memastikan terjadinya regenerasi dan peningkatan kapasitas penulis muda Indonesia agar siap bersaing di level internasional.
Tim Promosi Sasta juga mengorganisir kunjugan budaya ke Taman Arkeologi Leang-Leang bagi para delegasi Prancis, pada 16 Mei. Hal ini sebagai upaya menghargai titik tumpu sejarah dan warisan budaya Sulawesi Selatan.
Philippe Claudel akan membacakan nukilan karyanya di hari yang sama pada sesi “Under the Poetic Star”.
Menariknya, teks-teks Claudel tidak hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia tetapi juga diinterpretasikan dalam bahasa isyarat, sebagai upaya memperluas jangkauan karya sastra agar dapat dinikmati oleh semua masyarakat.
Kedatangan Cludel ke MIWF juga menandai peluncuran perdana Choix Goncourt Indonesia, yaitu pernghargaan sastra yang diprakarsai oleh Académie Goncourt, di mana mahasiswa Indonesia bisa memilih langsung penulis-penulis favorit mereka untuk dimoninasikan di Prix Goncourt.

