MIWF 2026 Perkuat Jembatan Sastra Indonesia-Prancis, Philippe Claudel Luncurkan Choix Goncourt Indonesia

JURNAL MAKASSAR – Perhelatan Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026 menghadirkan agenda bertajuk “MIWF Meets France” yang memperkuat kolaborasi sastra dan budaya antara Indonesia dan Prancis.

Agenda ini turut dihadiri sejumlah delegasi penting dari Prancis, di antaranya Philippe Claudel, penulis kenamaan sekaligus Presiden Académie Goncourt, serta Karina Hocine, editor dan Sekretaris Jenderal penerbit legendaris Prancis, Éditions Gallimard. Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, turut hadir memberikan pidato pembukaan dalam rangkaian MIWF pada Kamis 14 Mei 2026.

Dalam agenda Media Gathering: La France Meet MIWF yang berlangsung hangat di Alliance Française Makassar, Jalan Maipa, Jumat, 15 Mei 2026, Philippe Claudel menjelaskan ketertarikan Prancis terhadap Indonesia tidak hanya dibangun melalui hubungan diplomatik, tetapi juga karena besarnya minat masyarakat Indonesia terhadap bahasa dan budaya Prancis.

“Alliance Française merupakan salah satu mitra kami, tempat berbagai pertanyaan tentang bahasa Prancis, sastra Prancis, penerbit Prancis, serta bagaimana memungkinkan untuk menulis, membaca, membayangkan sebuah novel, hingga membangun hubungan dan kemitraan antara negara kita dibahas bersama,” ujarnya.

Claudel mengungkapkan dirinya bersama Karina Hocine telah mengunjungi sejumlah kota di Indonesia sebelum tiba di Makassar dan menemukan antusiasme besar terhadap budaya Prancis.

“Hal itu sangat menggembirakan bagi kami untuk turut berkontribusi dalam memperkuat hubungan antara kedua negara,” katanya.

Philippe Claudel dikenal melalui karya-karya internasional seperti Brodeck’s Report, Grey Souls, dan The Tree of Toraja. Selain novelis dan sutradara film, ia juga menjabat Presiden Académie Goncourt, lembaga sastra prestisius Prancis yang menaungi penghargaan Prix Goncourt sejak 1903.

Sementara itu, Karina Hocine menyoroti masih minimnya karya sastra Indonesia yang diterjemahkan ke bahasa Prancis. Ia menyebut Éditions Gallimard selama puluhan tahun baru menerbitkan satu penulis Indonesia, yakni Pramoedya Ananta Toer.

“Kami belum memiliki cukup banyak penulis kontemporer Indonesia,” ujar Karina.

Ia juga menilai sastra Prancis kontemporer belum banyak diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia, meski karya klasik penulis seperti Jean-Paul Sartre, Albert Camus, Simone de Beauvoir, hingga Patrick Modiano telah dikenal luas.

Karina berharap kunjungan delegasi Prancis ke MIWF menjadi awal kolaborasi baru antara penerbit dan penulis kedua negara.

“Saya berharap ini menjadi awal kerja sama baru yang akan membantu menghadirkan lebih banyak buku dalam kedua bahasa,” katanya.

Dalam sesi tanya jawab, Philippe Claudel mengaku baru saja membaca karya terbaru Eka Kurniawan yang telah diterjemahkan ke bahasa Prancis. Menurutnya, novel tersebut memberikan gambaran menarik tentang kehidupan masyarakat Indonesia masa kini, terutama benturan antara nilai religius dan kehidupan remaja modern.

Claudel juga mengungkapkan kedekatannya dengan budaya Toraja. Ia menyebut novel *The Tree of Toraja* yang diterbitkan pada 2017 terinspirasi dari refleksi tentang kematian dan budaya Toraja di Sulawesi Selatan.

“Toraja memiliki budaya yang sangat kaya di kawasan Makassar dan Sulawesi Selatan,” ujarnya.

Delegasi Prancis dijadwalkan mengunjungi Taman Arkeologi Leang-Leang sebagai bagian dari rangkaian budaya MIWF 2026.

Dalam suasana santai, Claudel juga mengaku terkesan dengan keramahan masyarakat Makassar meski cuaca kota ini menurutnya sangat panas.

“Bagi orang Prancis, sangat tidak biasa bertemu orang-orang yang selalu tersenyum dengan tulus,” katanya sambil disambut tawa hadirin.

Sementara itu, Fabien Penone menegaskan hubungan sastra Indonesia dan Prancis harus berjalan dua arah. Ia menilai jumlah penulis Indonesia yang diterjemahkan di Prancis masih sangat terbatas.

“Kami benar-benar berharap melalui kehadiran kami di Festival Makassar ini akan lahir hubungan sastra yang lebih kuat dan lebih hidup di masa depan,” ujarnya.

Kehadiran Philippe Claudel dan Karina Hocine di MIWF 2026 juga menandai peluncuran perdana Choix Goncourt Indonesia, program yang memungkinkan mahasiswa Indonesia membaca dan memilih karya sastra Prancis terbaik dari daftar Prix Goncourt.

Program ini melibatkan tujuh universitas di Indonesia dan diharapkan menjadi jalan lahirnya generasi pembaca, penerjemah, dan penulis yang mampu menjembatani sastra Indonesia dan Prancis di masa depan.***

 

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top