Sutradara Film Pesta Babi ‘Ditolak’ di Makassar, Prof Zainal Arifin: Makassar Tak Sejumud Itu

HERALD.ID, MAKASSAR – Gelombang kontroversi seputar pemutaran  film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita kini mulai merembes ke Kota Daeng.

Hal ini dipicu oleh kemunculan selebaran digital di platform media sosial yang menolak rencana kedatangan sang sutradara, Dandhy Dwi Laksono, ke Makassar.

Narasi poster menuliskan “Masyarakat Makassar Menolak Kedatangan Dandhy Dwi Laksono”. Kelompok penolak mengklaim bahwa karya sinematik tersebut mengusung pesan provokatif yang dikhawatirkan memecah persatuan masyarakat.

Sebelum riuh di Makassar, film yang mengulas perjuangan masyarakat adat Papua dalam mempertahankan sekitar 2,5 juta hektar hutan adat mereka dari ekspansi mega-proyek pangan dan energi memang menuai penolakan di beberapa lain. Berita terkini Indonesia.

Agenda nonton bareng (nobar) film yang merekam aksi simbolis warga Papua memasang salib raksasa dan palang adat sebagai bentuk perlawanan tersebut sempat dibubarkan paksa di Ternate dan Universitas Mataram.

Penolakan yang merembet ke Makassar ini langsung memantik perhatian dari Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof. Zainal Arifin Mochtar. Akademisi yang akrab disapa Uceng ini mengaku terkejut sekaligus heran melihat adanya ketakutan terhadap sebuah karya audio-visual di Makassar.

Merujuk pada kajian antropolog Christian Pelras dan sejarawan Leonard Andaya mengenai karakter sosiologis masyarakat Sulawesi Selatan, Uceng mengingatkan kembali bahwa etnis Bugis dan Makassar dikenal memiliki tradisi intelektual yang kuat, integritas tinggi, serta watak politik yang berani dan militan.

Makanya menurut dia, karakter tersebut sangat tidak selaras dengan sikap antikritik atau takut terhadap sebuah tayangan film.

“Saya yakin Kota Makassar tak sejumud itu. ‘Kupare’ngkeng ri boko, kupada’ngkeng ri munri’ adalah pegangan keberanian untuk teguh pada kebenaran. Tentu, tak ada alasan takut pada film,” tegas alumni SMA Negeri 1 Makassar tersebut dalam postingan Instagramnya, Jumat, 15 Mei 2026.

Di sisi lain, menanggapi riuh penolakan yang mengatasnamakan warga Kota Makassar tersebut, Dandhy Dwi Laksono memilih untuk tidak ambil pusing. Sang sutradara memastikan bahwa dirinya tidak akan mundur dan tetap menjadwalkan kunjungannya ke Ibu Kota Sulawesi Selatan tersebut dalam waktu dekat.

“Saya tetap akan datang ke Makassar,” ucap Dandhy singkat. (Busrah Ardan)

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top