FAJAR.CO.ID, MAKASSAR — Guru Besar Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Zainal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Prof Uceng, ikut menyoroti polemik penolakan terhadap jurnalis dan sineas Dandhy Laksono yang dijadwalkan hadir dalam agenda Makassar International Writers Festival (MIWF) 2026.
Uceng mengaku terkejut mendengar adanya penolakan tersebut. Bahkan, ia menyebut dirinya nyaris tidak percaya setelah mendapatkan informasi itu dari rekannya.
“Melihat ini dikirimkan oleh seorang teman, saya nyaris nda percaya,” ujar Uceng dikutip fajar.co.id, Jumat 15 Mei 2026.
Menurutnya, masyarakat Bugis dan Makassar selama ini dikenal memiliki karakter terbuka terhadap gagasan dan perbedaan pandangan. Karena itu, ia mempertanyakan munculnya sikap yang dianggap takut terhadap sebuah karya film.
“Kok bisa? Anak-anak di Kota Makassar, dari suku Bugis maupun Makassar takut dengan film?,” tambahnya.
Uceng yang mengaku memiliki kedekatan emosional dengan Sulawesi Selatan mengatakan dirinya cukup memahami kultur masyarakat di daerah tersebut. Ia bahkan mengaku masih rutin pulang ke Makassar hingga saat ini.
“Saya yang pernah hidup di sana lama, sampai sekarang reguler pulang dan sangat mecintai daerah itu tentu terkejut, sejak kapan jadi marah dan takut akan film,” tukasnya.
Dalam pernyataannya, Uceng juga menyinggung pandangan antropolog asal Prancis, Christian Pelras, yang banyak meneliti masyarakat Bugis. Ia mengingat kembali tulisan lama Pelras yang menggambarkan karakter Bugis sebagai masyarakat dengan tradisi intelektual kuat.
“Saya ingat tulisan lama (kalau gak salah tahun 90an tapi merupakan hasil riset lama dari tahun 70-an),” terangnya.
“Christian Pelras antropolog Prancis, tentang ciri manusia Bugis, ia menjelaskan bahwa orang Bugis bukan hanya suku pelaut atau perantau,” sambung dia.
Uceng menyebut Pelras melihat masyarakat Bugis sebagai sebuah peradaban maritim yang kompleks dan menjunjung tinggi kehormatan.
“Melainkan sebuah peradaban maritim yang kuat dan kompleks, dengan sistem sosial yang rapi, tradisi intelektual kuat, dan budaya kehormatan yang sangat dominan,” jelasnya.
Karena itu, ia menilai sikap takut terhadap film bukanlah karakter asli masyarakat Bugis maupun Makassar. Hal yang sama, kata dia, juga pernah disinggung sejarawan Amerika Leonard Andaya dalam kajiannya mengenai masyarakat Makassar.
“Takut dengan film kayaknya bukan mereka,” timpalnya.
“Mirip dengan Makassar, sosiolog sejarawan Amerika, Leonard Andaya menggambarkan orang Makassar mirip dengan penambahan militansi serta memiliki identitas politik kuat,” tandasnya.
Uceng pun optimistis Makassar tetap menjadi kota yang terbuka terhadap diskusi, karya seni, dan pertukaran gagasan. Ia bahkan mengutip pepatah Bugis-Makassar tentang keberanian mempertahankan kebenaran.
“Itu sebabnya saya gak percaya. Dan saya yakin, kota Makassar tak sejumud itu,” imbuhnya.
“’Kupare’ngkeng ri boko, kupada’ngkeng ri munri’ adalah pegangan keberanian untuk teguh pada kebenaran. Tentu, tak ada alasan takut pada film,” kuncinya.
Sebagai informasi, MIWF 2026 digelar pada 15-17 Mei 2026 di Benteng Rotterdam, Makassar, dengan mengusung tema “Re-co-ordinate”.
Festival literasi internasional tersebut menghadirkan ratusan program diskusi, workshop, pemutaran film, hingga pertunjukan seni yang melibatkan pembicara dari berbagai negara.
Direktur MIWF, M Aan Mansyur, mengatakan sejak pertama kali digelar pada 2011, festival tersebut konsisten membawa nilai hak asasi manusia, antikorupsi, hingga keberagaman dalam setiap penyelenggaraannya.
“Festival tahun ini tetap membawa nilai yang sama dengan yang kami usung dari tahun ke tahun. Seluruh gerak dipandu oleh prinsip dasar yang kita pegang,” kata Aan saat jumpa pers di Benteng Rotterdam, Rabu 13 Mei 2026.

