“Ruang Aman itu Bernama MIWF”: Titah AW dan Refleksi Jurnalisme di Festival Sastra

MAKASSAR — Di tengah riuh suasana Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, jurnalis Titah AW duduk tenang di pelataran Fort Rotterdam, mengenang momen-momen yang membuatnya tersentuh selama mengikuti festival sastra terbesar di Indonesia Timur itu. “Saya merasa di acara ini ruang aman terbuka lebar, di mana saya bahkan merasa aman meninggalkan tas saya,” katanya sembari tersenyum saat diwawancarai oleh Tim Relasi Media MIWF pada Sabtu sore (31/5/2025).

Bagi Titah, MIWF bukan sekadar panggung bagi para penulis atau penyair, tetapi sebuah ruang kultural yang inklusif, tempat pertemuan lintas latar belakang: penulis, seniman, akademisi, jurnalis, bahkan warga biasa yang tak bersentuhan langsung dengan dunia sastra. Ia melihat MIWF sebagai contoh nyata bagaimana literasi bisa menjadi jembatan dialog sosial, bukan sekadar medium artistik.

MIWF 2025 hadir dengan tema “Land and Hand”, sebuah refleksi atas hubungan manusia dengan tanah, tempat tinggal, dan ruang hidup bersama. Tema ini dirayakan dalam berbagai bentuk; dari diskusi panel, pameran seni visual, pemutaran film, hingga pertunjukan musik dan pembacaan puisi. Bagi Titah, inilah kekuatan MIWF—kemampuannya untuk mengolah wacana penting dalam kemasan yang hangat, akrab, dan merangkul semua kalangan.

“Saya merasa tema dari MIWF, Land and Hand, sangat penting untuk kita bahas sekarang. MIWF mampu mengemasnya dalam berbagai sesi pertunjukan dan pameran dari kurator-kuratornya,” jelasnya. Tema tersebut menyentuh persoalan paling mendasar hari ini: krisis ekologis, migrasi, relasi manusia dengan alam, dan bagaimana narasi bisa menjadi alat pemulihan.

Yang paling membuat Titah terkesan adalah bagaimana MIWF membuka ruang partisipasi tidak hanya untuk sastrawan dan penulis, tetapi juga jurnalis. Sebagai reporter yang terlibat dalam liputan investigatif tentang krisis lingkungan dan keberlanjutan hidup, Titah merasakan betul dampaknya. “Saya merasa terkesan Mas Aan Mansyur melibatkan jurnalis dalam acara ini,” ujar Titah.

Menurutnya, pelibatan jurnalis dalam MIWF menegaskan bahwa karya jurnalistik memiliki nilai estetik dan etika yang setara dengan karya sastra. Keduanya sama-sama berbicara pada publik, sama-sama berangkat dari kepekaan atas kenyataan, dan sama-sama menyentuh nurani.

Keterlibatan Titah dalam sesi diskusi The Butterfly Effect bersama fotografer Kurniadi Widodo menjadi pengalaman emosional tersendiri. Di sana, ia memaparkan liputan mendalamnya tentang spesies kupu-kupu yang kini semakin terancam oleh deforestasi dan perubahan iklim. Lewat cerita-cerita kecil namun menyentuh, ia mengajak audiens untuk melihat bahwa makhluk sekecil kupu-kupu pun bisa memberi pesan besar tentang kehidupan.

“Saya mengabadikan kupu-kupu bersayap hijau bludru sebelum ia dibunuh untuk dijadikan koleksi,” kenangnya. 

Ia juga mengisahkan bagaimana proses pembunuhan itu terjadi saat kupu-kupu baru saja menetas, belum sempat terbang. Ungkapan-ungkapan emosional itu tak hanya menggambarkan kepedulian, tapi juga menunjuk pada pentingnya empati dalam liputan lingkungan.

MIWF menjadi ruang yang menampung keragaman ekspresi seperti ini. Diskusi tentang kupu-kupu bukan hanya tentang serangga indah, tapi tentang ekosistem yang rusak, dan bagaimana manusia turut menjadi bagian dari rusaknya keseimbangan itu. “Saya merasa MIWF memberi ruang untuk menyampaikan itu, tanpa merasa terasing,” kata Titah.

Bagi Titah, MIWF adalah contoh ideal bagaimana sebuah festival bisa bersifat inklusif. Tak ada sekat antara yang disebut ‘sastrawan besar’ dengan warga biasa. Tak ada panggung tinggi yang mengasingkan pembicara dari pendengar. Semua duduk sama rendah, berbagi cerita, dan saling mendengarkan.

Ia menyebut MIWF sebagai “ruang aman”, tak hanya dalam pengertian fisik, tetapi juga emosional dan intelektual. Di sana, siapa pun bebas menjadi dirinya, menyampaikan gagasan, bahkan hanya untuk sekadar menyimak dan merasa terhubung. “Saya bukan penyair, bukan juga penulis buku. Tapi saya merasa diterima sepenuhnya di sini,” ujarnya.

MIWF memperlihatkan bagaimana literasi bisa menjadi gerakan sosial yang menyentuh banyak aspek kehidupan. Diskusi-diskusi di festival ini tidak semata-mata membahas puisi atau prosa, melainkan juga menyentuh isu-isu agraria, urbanisasi, sejarah, dan hak-hak komunitas adat. Ini adalah bukti bahwa sastra tak hidup di menara gading, tapi tumbuh dari akar persoalan sehari-hari.

Titah menyebut MIWF sebagai salah satu festival langka yang berhasil menjembatani kerja intelektual dan kerja sosial. Di dalamnya, para jurnalis, aktivis, penulis, dan warga bisa bertemu dan saling belajar. Tak ada ego sektoral, tak ada kompetisi wacana. Yang ada hanyalah dialog dan kolaborasi.

 

Penulis : Sinta Dian Prawesti

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top