MTN Seni Budaya di Makassar International Writers Festival 2026: Menghubungkan Kata, Rupa, Film, dan Pertunjukan

Terkini.id – Makassar International Writers Festival (MIWF) kembali merayakan literasi pada 14–17 Mei 2026 di Benteng Rotterdam, Makassar. MIWF diselenggarakan oleh Rumata’ Artspace sejak 2011 dengan mengutamakan hak asasi manusia, antikorupsi, nirsampah dan rendah karbon, serta menolak panel yang hanya diisi oleh laki-laki (no all male panel).

Tema tahun ini adalah “Re-co-ordinate”, sebuah ajakan untuk menyusun ulang relasi, pengetahuan, dan gerakan kolektif dalam menghadapi berbagai krisis yang terjadi. Salah satu kurator MIWF 2026, Aziziah Diah Aprilya mengatakan bahwa tema ini menyoroti situasi sosial politik sekarang yang menggambarkan bagaimana kabar buruk memenuhi arus informasi dan bagaimana ia memengaruhi kondisi psikologis kita sebagai warga negara.

MIWF hadir sebagai ruang untuk membangun kembali harapan melalui kerja kolektif lintas disiplin. “Re-co-ordinate” adalah tentang mengumpulkan berbagai kekuatan, pengetahuan, dan gerakan serta keperawatan bersama.

Sebagai bagian dari inisiatif untuk mendukung ekosistem kreatif Indonesia secara berkelanjutan, MIWF berkolaborasi dengan Kementerian Kebudayaan RI melalui program MTN Seni Budaya bidang Sastra, Seni Rupa, Film, dan Seni Pertunjukan.

November 2025 lalu tujuh emerging writers terpilih telah mengikuti MTN Lab Akademi Emerging Writers yang turut didukung MTN Seni Budaya bidang Sastra, sebagai upaya untuk memperkuatkan ekosistem penulis muda melalui ruang pengembangan dan penciptaan karya berupa buku antologi berisi karya-karya peserta untuk didiskusikan di MIWF 2026.

Ketujuh emerging writers tersebut adalah Selina Aurora Rahayaan (Manokwari, Papua Barat), Petrus Nandi (Kupang, NTT), Diyah Prilly Upartini (Kotabaru, Kalsel), Silviana Yanti Mesak (Belu, NTT), Tara Febriani Khaerunnisa (Mataram, NTB), Runi Virnita Mamonto (Makassar, Sulsel), dan Achmad Rohani Renhoran (Makassar, Sulsel) mengisi dua sesi In Conversation with Emerging Writers pada Kamis, 14 Mei 2026.

Program Emerging Writers menjadi ruang berbagi pengalaman kreatif sekaligus memperlihatkan bagaimana karya sastra lahir melalui proses panjang berupa riset, pendampingan, revisi, dan refleksi personal. Tema besar MIWF tahun ini, “Re-coordinate”, mengajak peserta untuk membaca ulang kehidupan, menata kembali arah, serta membangun relasi baru dengan lingkungan dan masyarakat melalui karya sastra.

Mentor Faisal Oddang dan Cicilia Oday menyampaikan bahwa menulis bukan hanya soal menghasilkan karya sastra, tetapi juga menjadi ruang untuk merawat ingatan, menyuarakan pengalaman yang jarang didengar, serta membangun pemahaman baru terhadap realitas sosial.

Selain itu MTN Seni Budaya bidang Sastra juga turut menghadirkan sesi MTN IkonInspirasi bersama Avianti Armand and Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie di panggung utama MIWF 2026. Tidak hanya membicarakan buku-buku yang telah lahir, sesi ini juga membedah proses artistik kedua penulis tersebut.

Percakapan ini menyoroti perjalanan kekaryaan Avianti dan Ziggy, dari awal bersentuhan dengan dunia literasi hingga konsisten menyuarakan prinsip melalui karya hingga sekarang. Audiens diajak menelusuri pengaruh penulis yang membentuk cakrawala berpikir serta mengeksplorasi gaya penulisan keduanya.

Secara umum, sesi ini merupakan upaya untuk mendekatkan publik dengan sisi personal dan intelektual kedua penulis, mengungkap bagaimana pengalaman hidup dan nilai-nilai individualnya bertransformasi menjadi karya-karya yang mampu melintasi berbagai media dan bahasa.

Di MIWF 2026, MTN Seni Budaya juga hadir melalui bidang Seni Rupa dengan misi menjaring dan mempromosikan talenta lokal melalui serangkaian program kolaboratif yang mengeksplorasi persinggungan antara literasi, seni rupa, dan teknologi digital.

Kehadiran ini diwujudkan melalui empat agenda utama berupa lokakarya, diskusi inspiratif, dan instalasi seni media yang berlangsung di Benteng Rotterdam dan Makassar Creative Hub.

Rangkaian kegiatan MTN Seni Budaya bidang Seni Rupa dibuka dengan lokakarya MTN Asah Bakat: Membuat Karya Seni Media Menggunakan TouchDesigner bersama Ricky Janitra pada Jumat, 15 Mei 2026, di Amphiteater Makassar Creative Hub.

Sesi ini dirancang bagi pemula untuk mengenal dasar penciptaan karya seni media serta memahami bagaimana gambar digital dapat berinteraksi secara dinamis dengan ruang fisik. Pada hari terakhir festival, Minggu, 17 Mei 2026, kolektif Grafis Huru Hara (GHH) menjadi pemateri lokakarya MTN Asah Bakat: Kata Jadi Gambar di Chapel Benteng Rotterdam, yang mengajak peserta mengolah frasa pilihan dari para penulis MIWF Emerging Writers menjadi komposisi visual dengan teknik sablon DTF.

Melengkapi dua lokakarya teknis tersebut, MTN Seni Budaya bidang Seni Rupa turut menghadirkan sesi dialog MTN Ikon Inspirasi yang mempertemukan Ricky Janitra dan Grafis Huru Hara.

Dipandu oleh Gina Korompot sebagai host, diskusi ini membedah bagaimana praktik seni kolektif dan teknologi media mampu mengubah persepsi publik terhadap lanskap dan ruang interaksi di kota.

Sepanjang gelaran MIWF 2026 pada 14–17 Mei lalu, pengunjung juga dapat menikmati instalasi LED bertajuk Visual Weather Project karya Ricky Janitra di Taman Baca Benteng Rotterdam. Karya ini merefleksikan cuaca sebagai elemen aktif yang membentuk perilaku dan persepsi manusia dalam kehidupan sehari-hari.

MTN Seni Budaya bidang Film hadir di MIWF 2026 melalui dua sesi MTN IkonInspirasi berupa agenda nonton bersama film Na Willa di Cinépolis Phinisi Point dan diskusi panel.

Pemutaran berkapasitas 100 penonton ini diinisiasi sebagai upaya memperluas akses terhadap film keluarga berkualitas sekaligus menjembatani karya adaptasi berbasis literasi lokal dengan audiens yang lebih luas.

Melalui program ini, penonton diajak melihat bagaimana teks dalam buku dapat ditransformasikan secara apik ke medium audio-visual, menumbuhkan kesadaran akan pentingnya mendukung sinema lokal yang edukatif, serta memantik gairah masyarakat untuk kembali membaca karya sastra aslinya setelah menonton.

Melengkapi agenda pemutaran film tersebut, sesi diskusi panel Don’t Judge a Book by Its Movie bersama penulis buku dan produser film Na Willa, Reda Gaudiamo dan Novia Puspa Sari, menghadirkan ruang reflektif untuk membahas proses alih wahana dari buku ke film Na Willa, film anak yang telah menjangkau hampir satu juta penonton sejak dirilis.

Diskusi ini menegaskan bahwa bahwa baik buku maupun film memiliki kekuatan unik serta keterbatasan teknisnya masing-masing.

Proses alih wahana bukan kompetisi kemiripan, melainkan bentuk kolaborasi kreatif yang memperkaya penyampaian pesan, merawat nilai budaya, dan memperluas daya jangkau literasi teks ke dalam bentuk visual yang lebih inklusif bagi keluarga.

Kehadiran Na Willa, baik dalam versi buku dan film, dianggap sangat relevan dengan semangat Re-co-ordinate MIWF 2026, di mana perspektif anak-anak dalam narasi Na Willa menawarkan cara pandang yang jernih dalam melihat perubahan dunia di sekitar mereka.

Workshop Penulisan Skenario Cerita Anak di MTN AsahBakat bersama Riri Riza dirancang khusus untuk penulis dan penggiat kreatif yang ingin mendalami seni bercerita untuk audiens muda.

Fokus utama program ini adalah membekali peserta dengan pemahaman mengenai struktur penulisan skenario standar industri, mulai dari pengembangan premis hingga penyusunan plot point yang efektif sehingga mampu menciptakan narasi yang solid dan menarik.

Lebih dari sekadar teknik, workshop ini menekankan pentingnya penautan identitas dalam karya.

Peserta diajak menggali nilai-nilai budaya, kearifan lokal, serta karakter personal untuk diintegrasikan ke dalam cerita sehingga skenario yang dihasilkan tidak hanya menghibur, tetapi juga memiliki kedalaman makna dan jati diri yang kuat.

Melalui pendekatan praktis, program ini menjadi ruang kolaboratif untuk melahirkan kisah-kisah baru yang relevan dengan dunia anak sekaligus membawa napas identitas yang autentik.

Pertunjukan Surung Lalan: Doa dan Harapan dari Ritus Nusantara

MTN Seni Budaya bidang Seni Pertunjukan tak ketinggalan hadir di MIWF 2026 melalui MTN Presentasi dari kelompok Igal Performance Lab berjudul Surung Lalan.

Karya ini mengeksplorasi untaian doa dan harapan dari ritus-ritus Nusantara. Gagasan ini sejalan dengan fokus MIWF 2026, sub-tema “Home & Belonging” serta “Nourishment & Care” yang menyoroti isu ekologi, relasi manusia dengan tanah, kerja perawatan komunitas, hingga respons emosional terhadap krisis iklim.

Melalui medium gerak dan bunyi, pertunjukan ini mengajak penonton merefleksikan bagaimana manusia merawat akar dan keterhubungannya dengan alam.

Secara sosiokultural, Surung Lalan mengeksplorasi hubungan ikat kait antara Patati dan Balian yang bersumber dari mantra pembuka jalan dalam ritual penyembuhan adat.

Digarap oleh Abib Habibi Igal, Daniel Nuhan, Ardi Kenzu, dan Dani Hartani, pertunjukan ini membenturkan harmoni spiritual tradisional dengan kesadaran ruang kritis modern melalui hentakan Gandrang dan gema Galang Hiyang. Kehadirannya di panggung MIWF 2026 membawa pesan tentang pentingnya ketangguhan kolektif dalam menghadapi ancaman ekosida dan hilangnya keragaman hayati, sekaligus menjadi ajakan untuk terus merawat akar ekosistem dan harapan akan kesembuhan semesta.

“Kehadiran MTN Seni Budaya lintas bidang di MIWF 2026 bukan hanya membuktikan bahwa tema ‘Re-co-ordinate’ relevan dan penting, tetapi juga menunjukkan bahwa seni budaya adalah bagian integral yang tidak bisa dilepaskan dari upaya bersama kita untuk mengubah kehidupan menjadi lebih baik,” kata Aan Mansyur, Direktur Makassar International Writers Festival.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top