HERALDSULSEL, MAKASSAR — Benteng Rotterdam kembali dipenuhi suara-suara dari buku, percakapan, musik, hingga pertunjukan tubuh yang bergerak di antara lorong sejarah.
Selama empat hari, 14–17 Mei 2026, Makassar International Writers Festival (MIWF) menjelma menjadi ruang temu lintas disiplin yang merawat ingatan, harapan, dan imajinasi kolektif.
Mengusung tema “Re-co-ordinate”, festival tahun ini tak sekadar menghadirkan diskusi sastra, tetapi juga mengajak publik membaca ulang relasi manusia dengan ruang hidup, pengetahuan, dan krisis sosial yang terus berkembang.
Salah satu kurator MIWF 2026, Aziziah Diah Aprilya, menilai tema tersebut lahir dari kegelisahan terhadap derasnya kabar buruk yang membentuk kondisi psikologis masyarakat hari ini. Karena itu, festival dihadirkan sebagai ruang untuk menyusun kembali harapan melalui kerja bersama lintas bidang.
“Re-co-ordinate adalah tentang mengumpulkan kembali kekuatan dan pengetahuan untuk saling merawat,” ujarnya.
Semangat itu diterjemahkan melalui kolaborasi bersama Kementerian Kebudayaan RI lewat program MTN Seni Budaya yang hadir di bidang sastra, seni rupa, film, dan seni pertunjukan.
Di ranah sastra, perhatian tertuju pada para penulis muda dari berbagai daerah yang sebelumnya mengikuti MTN Lab Akademi Emerging Writers. Tujuh penulis terpilih mempresentasikan karya mereka dalam sesi percakapan yang memperlihatkan bagaimana sebuah karya lahir dari proses panjang: riset, pendampingan, revisi, hingga pergulatan personal.
Nama-nama seperti Selina Aurora Rahayaan dari Papua Barat, Petrus Nandi dari NTT, hingga Runi Virnita Mamonto dan Achmad Rohani Renhoran dari Makassar membawa cerita yang berangkat dari pengalaman sosial dan lanskap budaya masing-masing.
Mentor program, Faisal Oddang dan Cicilia Oday, menekankan bahwa menulis bukan sekadar menghasilkan teks, tetapi juga cara merawat ingatan dan menyuarakan pengalaman yang kerap luput didengar.
MIWF juga menghadirkan sesi percakapan bersama Avianti Armand dan Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie. Diskusi itu membawa pengunjung menelusuri perjalanan kreatif kedua penulis, termasuk bagaimana pengalaman hidup membentuk gaya dan cara pandang mereka dalam berkarya.
Sementara itu, seni rupa hadir melalui berbagai eksperimen visual yang memadukan teknologi digital dan ruang kota. Di Makassar Creative Hub, Ricky Janitra memperkenalkan seni media interaktif melalui lokakarya TouchDesigner yang mengajak peserta memahami hubungan antara visual digital dan ruang fisik.
Di sisi lain, kolektif Grafis Huru Hara mengubah kata menjadi gambar melalui teknik sablon DTF. Frasa-frasa dari karya para emerging writers diterjemahkan menjadi komposisi visual yang hidup.
Pengunjung MIWF juga disuguhi instalasi LED “Visual Weather Project” karya Ricky Janitra di area Taman Baca Benteng Rotterdam. Karya tersebut merefleksikan cuaca sebagai elemen yang memengaruhi perilaku dan persepsi manusia sehari-hari.
Dari medium visual, festival bergerak ke layar sinema. Bidang film menghadirkan pemutaran “Na Willa”, film keluarga yang diadaptasi dari karya sastra lokal. Program ini bukan hanya ruang menonton bersama, tetapi juga upaya mendekatkan kembali masyarakat dengan budaya membaca melalui medium audio visual.
Diskusi “Don’t Judge a Book by Its Movie” bersama Reda Gaudiamo dan Novia Puspa Sari membahas proses alih wahana dari buku ke film. Percakapan itu menegaskan bahwa adaptasi bukan perkara menyalin cerita secara utuh, melainkan menghadirkan pengalaman baru dengan bahasa medium yang berbeda.
Sementara itu, sutradara Riri Riza hadir membagikan pengalaman dalam workshop penulisan skenario cerita anak. Peserta diajak memahami bagaimana membangun cerita yang kuat sekaligus berakar pada identitas budaya dan pengalaman lokal.
Menjelang malam, suasana festival berubah lebih hening ketika kelompok Igal Performance Lab membawakan pertunjukan “Surung Lalan”. Karya ini merangkai doa-doa dan ritus Nusantara melalui tubuh, bunyi, dan hentakan musik tradisional.
Pertunjukan garapan Abib Habibi Igal bersama timnya itu mengeksplorasi hubungan manusia dengan alam, spiritualitas, serta ancaman kerusakan lingkungan yang semakin nyata.
Di atas panggung MIWF, “Surung Lalan” terasa seperti pengingat bahwa kebudayaan bukan hanya soal pertunjukan, melainkan cara manusia menjaga keterhubungan dengan tanah, komunitas, dan harapan akan kesembuhan bersama.
Direktur MIWF, Aan Mansyur, menyebut kehadiran MTN Seni Budaya lintas bidang menjadi bukti bahwa seni dan budaya memiliki peran penting dalam membangun kehidupan sosial yang lebih baik.
“Tema ‘Re-co-ordinate’ menjadi relevan karena seni budaya tidak pernah terpisah dari usaha manusia memperbaiki kehidupan,” katanya. (*)

