MAKASSAR – Zaky Yamani adalah seorang penulis fiksi dan nonfiksi asal Bandung yang senang membaca sejarah. Ia pernah terlibat dalam program residensi di Portugal yang diselenggarakan Komite Buku Nasional pada tahun 2017. Dari sana, ia mengembangkan sebuah cerita yang dikenal dengan “Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa”.
Kemudian pada 2024, ia menerbitkan sekuel buku harian perjalanan Samiam, dengan subjudul “Sepasang Elang dari Diryabakir”. Tahun ini, Zaky berkesempatan untuk menghadirkan ruang diskusi buku tersebut di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025.
Lantas seperti apa proses kreatif penulis yang pernah menjadi jurnalis dan editor untuk harian Pikiran Rakyat tersebut? Tim Relasi Media MIWF berkesempatan mewawancarai Zaky pada Sabtu (31/5/2025), di tengah-tengah kesibukannya menjadi pembicara dalam MIWF 2025 yang berlangsung di Fort Rotterdam Makassar. Berikut wawancara selengkapnya.
1. Melihat dari tema buku-buku sebelumnya, termasuk Kereta Semar Lembu dan Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa, apakah ada ketertarikan khusus Kak Zaky mengangkat cerita dari sejarah?
Memang saya sangat suka sejarah sih dari kecil sekali. Dulu itu dari SD, misalnya lagi mau ujian tahunan naik kelas gitu, ibu saya suka marah-marah karena saya lebih memilih baca buku sejarah ketimbang buku pelajaran yang akan diujikan besoknya, gitu.
Dan dari hobi saya membaca sejarah itu akhirnya di kepala saya jadi ada banyak panggung untuk cerita. Panggung itulah yang di usia dewasa saya, saya isi dengan cerita-cerita yang imajinasi. Panggungnya pakai pakai panggung sejarah, tapi tokoh-tokoh ceritanya fiktif gitu, fiksi aja.
2. Melihat arsipan-arsipan dari masa kolonial merupakan bagian krusial dari proses penulisan cerita ini, tapi apakah Kak Zaky pernah melakukan riset menulis di luar dari itu?
Nggak, secara sengaja, kecuali waktu saya di Portugal ya. Ketika saya di Portugal, memang datang ke lokasi-lokasi yang saya bayangkan. Tapi selebihnya kayak misalnya saya ke Konstantinopel, ke Arab, itu sebenarnya lebih nggak sengaja aja. Tapi apakah saya hadir di setiap tempat itu? Nggak juga sih. Saya hadir di beberapa tempat, iya, dan mendapatkan atmosfernya, mendapatkan suasananya, melihat strukturnya dan lain-lain.
3. Profesor Barend Hendrik van Laar ternyata adalah tokoh fiktif dalam cerita. Apakah ada alasan sendiri secara naratif ia menjadi pengantar dalam buku?
Jadi kehadiran Profesor Barend Hendrik van Laar belakangan ketika kerja di buku pertama. Jadi setelah naskah selesai, saya merasa, ini harus masuk akal buku yang sampai ke pembaca. Karena itu buku harian kan. Buku harian itu harus disampaikan oleh seseorang. Akhirnya saya cari ‘common names in Netherland in 1970s’. Jadi saya menggabungkan tiga nama itu: Barend, Hendrik, van. Dan saya berimajinasi saja gitu dia seorang profesor gitu kan, kebetulan pernah datang ke Nusantara dan mendapatkan buku ini [buku harian Samiam].
4. Bagaimana cara Kak Zaky bisa meramu sejarah dan imajinatif menjadi sesuatu yang tidak bertabrakan?
Saya tidak pernah menabrak fakta sejarah. Saya tidak ingin menabrak fakta sejarah juga. Yang saya manfaatkan adalah wilayah yang masih abu-abu. Di situ saya masukkan imajinasi. Pas Kota Gama di India memotong kuping atau hidung orang untuk dibikin kari, saya hanya hadirkan informasi itu. Jadi ya, trik-trik semacam itu saja. Saya tetap menyajikan sejarah yang memang sudah tertulis dengan fakta aslinya, tapi wilayah abu-abu yang saya isi dengan imajinasi.
5. Bagaimana pandangan Kak Zaky pada orang-orang yang beranggapan bahwa karya bergenre historical fiction sebagai sejarah yang nyata?
Ya itu hal yang di dalam sastra sih, di mana imajinasi menggunakan panggung sejarah. Karena memang itu sudah dilakukan sejak lama. Panggung sejarah itu dihadirkan dan diisi dengan tokoh-tokoh imajinatif. Dan saya melihat dalam historical fiction yang dinilai itu justru imajinasinya. Karena kalau pembaca ingin mendapatkan cerita sejarah yang benar, nah dia harus baca buku sejarah yang memang faktual, memang valid, dan terkonfirmasi. Dan salah satu definisi dari karya fiksi juga adalah distorted reality. Dan itu yang saya lakukan di Kereta Semar Lembu, di mana saya men-distorted dengan imajinasi itu. Wilayah abu-abu atau wilayah gelap itu saya terangi, tapi dengan imajinasi saya.
6. Cerita Samiam disampaikan dalam bentuk buku harian. Mengapa?
Pertama sih masalah kenyamanan. Kan ceritanya ini berlapis nih, ada tiga kerangka cerita. Cerita dia hari ini, cerita dia masa lalu, cerita dia masa lalu lagi, dan cerita dia yang ingin melangkah ke masa depan. Nah saat saya menulis, saya merasa dengan metode itulah tujuan saya bisa tercapai.
Tapi yang jadi persoalan juga, karena sifatnya buku harian, dunianya—dunia si Samiam ini—hanya bisa melihat saat itu, di tempat tertentu dan sudut pandang tertentu. Dia tidak bisa leluasa melihat dunia yang lebih luas. Tapi itu tantangan yang menarik sih buat saya. Bagaimana saya bisa tetap menghadirkan dunia yang lebih luas dari sudut pandang yang relatif terbatas.

7. Tadi Kak Zaky sudah mention tentang buku ketiga yang akan datang tahun 2026. Namun apakah dari awal cerita memang direncanakan sampai buku ketiga?
Dari awal mau jadi trilogi, dan kerangka besarnya itu sudah saya buat sejak 2016-2017. Tetapi detail-detail ceritanya itu yang masih terus berkembang sesuai dengan informasi baru yang saya terima atau pemahaman baru yang saya dapatkan. Jadi karena luas geografis yang sangat luas di cerita ini ya dari Portugal sampai ke tanah Sunda. Itu yang membuat buku ini harus dibagi setidaknya tiga dan saya memang sudah memutuskan untuk trilogi saja.
8. Dalam proses penulisannya pasti pernah ada kendala, tantangan, atau writer’s block gitu. Bagaimana Kak Zaky mengatasi masalah itu?
Saya baru baca buku Haruki Murakami tentang menulis sebagai panggilan hidup: olahraga sih. Haruki Murakami itu orang yang sangat rajin berolahraga. Karena dia berpendapat, fisik yang sehat, itu akan melahirkan karya yang bagus. Saya orang yang termasuk malas berolahraga. Ketika badan saya tidak fit, susah menulis. Jadi saya harus selalu membuat badan saya stabil agar saya bisa menulis. Writer’s block itu bisa diatasi dengan itu. Ketika pikiran segar, badan segar, walaupun kita sedang tidak punya ide, tapi fisik dan mental kita bagus, buka laptop, lihat sebentar, mungkin bisa bergerak.
9. Saya ingin mengajak Kak Zaky untuk berbicara mengenai tema MIWF tahun ini: Land and Hand. Bagaimana pendapatnya tentang tema tersebut?
Tentang Land and Hand ini kan kalau kayak kaitannya dengan Samiam. Dia melintasi berbagai land, wilayah geografis, dan menyaksikan budaya, menyaksikan konflik, bahkan mengalami perbudakan di dalam prosesnya itu. Nah, saya melihat ada kaitan erat dengan karya saya, ada juga bahkan karya saya yang baru tadi: Ketika Senja Jatuh di Nara, terkait dengan tema MIWF tahun ini, di mana kita bicara tentang geografi sebagai wilayah, atau sebagai panggung kehidupan manusia. Dan di mana tangan-tangan manusia itu yang bisa mengubah peta geografi, memaknainya dengan cara berbeda, menghidupi dengan cara berbeda.
10. Kak Zaky menulis karakter Samiam yang membicarakan soal kepercayaan dan umat beragama: kristiani dan muslim. Bagaimana Kak Zaky menyampaikan hal ini sebagai sesuatu yang tepat sasaran?
Itu adalah refleksi dari apa yang saya percaya. Sudut pandang saya tentang agama-agama, keyakinan, budaya. Itulah yang saya sisihkan di dalam pikiran Samiam. Dan saya merasa, itu bisa tepat karena saya percaya dengan nilai-nilai yang saya yakini tentang kemanusiaan, tentang bagaimana agama seharusnya memanusiakan manusia. Dan saya pikir itu sangat universal. Itu yang saya coba tawarkan di dalam buku ini melalui pikiran Samiam.
11. Pernah tidak Kak Zaky menemukan fakta sejarah yang tidak terlalu jelas dan bukan sesuatu yang abu-abu untuk berimajinasi di sana? Jika iya, bagaimana cara menanggulaninya?
Iya, biasanya saya cari jalan lain sih. Misalnya di buku ini, tokoh Hakim Agung Muhyidin Fenarizade Celebi itu tokoh aslikan di dunia sejarah Turki. Tapi saya meminjam tokoh itu dalam karya saya. Karena melihat konteks waktu itu Turki berperang melawan Persia, dan si Hakim Agung ini pun berperang, saya fiksikan perangnya itu. Karena itu masih wilayah abu-abu, tidak terlalu detail di dalam sejarah apakah ini mempengaruhi sultan Turki atau bagaimana untuk meredam perang. Itu saya menggunakan fiksi untuk meramunya.
12. Pertanyaan terakhir. Bagi penulis muda yang tertarik untuk menulis genre historical fiction ini, apa pesan yang bisa diberikan kepada mereka?
Banyak baca buku. Saya kalau mengalami writer’s block, saya pasti yakin saya kurang baca. Ada satu bagian tertentu di dalam cerita yang saya harus membaca latar belakangnya lebih dalam. Ketika saya semakin banyak membaca, semakin muda saya menuliskan karakter tokoh-tokohnya, menuliskan lingkungannya, budaya, dan lain-lain. Jadi semakin banyak pengetahuan yang kita punya, akan semakin mudah kita menulis. Dan pengetahuan itu hanya bisa ditemukan dengan membaca, observasi, dan kalau ada uang dan tenaganya, bisa langsung datang mengunjungi. Dengan tiga kunci itulah kita bisa mendapatkan pengetahuan utuh yang kita tulis.
Penulis : M. Yasril Aldilah Sudarmono
Fotografer : Eghi Algipari

