Diskusi Novel “Seratus Tahun Kebisuan”: Proses Pembukuan ke Relevansinya dengan Bissu

MAKASSAR — Diskusi novel “Seratus Tahun Kebisuan” karya penulis asal Makassar, Wawan Kurniawan, menjadi salah satu program di hari ketiga Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 yakni pada Sabtu sore (31/5/2025). Di hadapan para peserta yang mencapai 25 orang, Wawan membahas secara tuntas proses pembukuan sampai relevansinya dengan bissu.

Diskusi yang berlangsung di Gedung K Fort Rotterdam, Makassar tersebut dimoderatori oleh pegiat literasi lokal yakni Arifin, serta menghadirkan penulis kodang Ama Gaspar sebagai penanggap. Hadir pula Wawan Kurniawan yang selaku penulis novel yang diterbitkan oleh Diva Press pada awal tahun ini.

Meski menjadi karya kelima, “Seratus Tahun Kebisuan” adalah novel perdana Wawan sepanjang karier kepenulisannya. Sebelumnya ia menerbitkan dua buku kumpulan puisi (“Persinggahan Perangai Sepi” (2013) dan “Sajak Penghuni Surga” (2017)), satu kumpulan esai berjudul “Sepi Manusia Topeng” (2017) lalu satu kumpulan cerita pendek yakni “Aku Mengeong” (2021).

Wawan banyak bercerita mengenai alasan dirinya menuliskan buku tersebut sampai pada proses penerbitannya. Bermula dari perbincangan di tongkrongan, ia akhirnya termotivasi dan mempunyai alasan untuk menuliskan kisah tentang Bissu dan situasi sosial di Sulawesi Selatan. Novel tersebut akhirnya rampung ditulis pada tahun 2016. 

Meski tidak meraih juara pertama pada kompetisi itu, naskah “Seratus Tahun Kebisuan” mendapat gelar Novel Pilihan dalam ajang UNNES International Novel Writing Contest 2017 yang digelar oleh Universitas Negeri Semarang. Wawan kemudian berinisiatif untuk mencari penerbit yang dapat membukukan karya tulisnya.

Kendati demikian, lantaran Wawan yang tidak pernah berurusan dengan dunia penerbitan buku, naskah novel setebal 173 halaman tersebut akhirnya terkatung-katung selama beberapa tahun karena beberapa hal sepele. “Dari tahun 2016 direncanakan, dicarikan penerbit. Dan baru bisa terbit di tahun 2025,” tutur pria yang juga menjadi penerjemah novel berbahasa asing tersebut.

Di sisi lain, menjawab pertanyaan moderator tentang relevansi “Seratus Tahun Kebisuan” dengan bissu, Ama Gaspar memberikan komentar yang ia awali dengan menceritakan bagaimana pengalamannya saat berbincang langsung dengan para bissu, tentang eksistensi dan pengalaman spiritual yang mereka alami.

Dalam ceritanya, Ama menjelaskan tentang bagaimana seorang bissu dapat menganggap atau mengetahui bahwa dirinya adalah bissu. Terdapat dua hal yang dapat menjadikan seseorang sebagai bissu, pertama dari wahyu yang disampaikan dalam mimpi, kedua dari pengalaman dan pengetahuan tentang dunia, ritual dan adat.

Dari penjelasan tersebut, Ama kemudian menyimpulkan, bahwa setidaknya, bissu telah cukup terdeskripsikan dalam cerita yang dituliskan oleh Wawan. “Dan pesan itu tersampaikan di buku Wawan,” ungkap perempuan yang juga terpilih sebagai salah satu Emerging Writers di MIWF 2014 itu.

 

Penulis : Rahmat Rizki

Fotografer : Ahmad Zulfiqar

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top