[Wawancara Khusus Emerging Writer 2025] Jejak Langkah Nany Diansari Merawat Perempuan dalam Tradisi

MAKASSAR — Baginya, Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025 adalah cita-cita. Ia memelihara kegigihannya dalam menulis sampai tulisannya dikatakan layak untuk mewarnai MIWF 2025. Begitu Nany Diansari Korompot, salah satu Emerging Writer MIWF 2025, membuka wawancara yang dilakukan secara daring bersama Tim Relasi Media MIWF pada Jumat malam (23/5/2025).

Lahir di Pontodon, Kotamobagu, Sulawesi Utara, ia menyelesaikan studi sarjana di Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Negeri Gorontalo pada 2008, lalu melanjutkan pendidikan magister di bidang European Studies di Universitas Indonesia dan lulus tahun 2012.

Kecintaannya pada dunia sastra membawanya aktif menulis cerita dan puisi, yang telah dipublikasikan dalam berbagai antologi. Beberapa di antaranya yakni antologu cerpen “Di Tebing Tomini Aku Jatuh Cinta Begitu Dalam” dalam buku “Rumah Adalah di Mana Pun” (Grasindo, 2014), antologi puisi “Isis dan Musim-Musim” (PBP Publishing, 2015), “Suara dari Lembah Kata-Kata” (2016), serta cerita rakyat Ki Mokodoludut dalam antologi “Dongeng Negeri Kita” (PADASAN, 2015). Ia sedang menyiapkan penerbitan novel perdananya yang berjudul “Bolian Sera” dan rencanya rilis pada tahun 2025.

Selain menulis, Nany adalah seorang ibu dan guru di salah satu Sekolah Menengah Atas (SMA) di Kotamobagu. “Aku menyukai kopi, lari pagi, buku-buku, dan perjalan pulang,” tutur penulis yang lahir dan besar di Kotamobagu, Sulawesi Utara itu. Kata Nany, menulis adalah pekerjaan soliter. Oleh sebab itu, menurut dia, kegigihannya perlu dijaga secara pribadi. Kegigihan tersebut kemudian mengantarnya sampai pada cita-citanya yaitu, MIWF 2025. Berikut ini wawancara lengkapnya.

1. Hai! Bisa perkenalkan secara singkat tentang dirimu?

Namaku Nany Diansari Korompot. Lahir di Pontodon, Kotamobagu, Sulawesi Utara pada 15 Desember 1987. Aku menamatkan studi Sarjana (S1) di Fakultas Sastra dan Budaya, Universitas Negeri Gorontalo pada tahun 2008. Kemudian menamatkan studi Magister pada tahun 2012 di Universitas Indonesia, program studi Kajian Wilayah Eropa.

2. Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan menulis kamu sebelum terpilih sebagai Emerging Writer untuk MIWF 2025?

Aku senang menulis sejak SMP, tapi benar-benar menekuninya pada tahun 2016. Perjalanan menulisku dimulai dengan menerbitkan karya antologi cerita pendek dan buku puisi bersama beberapa penulis lainnya. Beberapa di antaranya, “Di Tebing Tomini Aku Jatuh Cinta Begitu Dalam” (Dalam kumpulan cerita perjalanan “Rumah Adalah di Mana Pun” – Grasindo 2014), “Isis dan Musim-Musim” (Antologi Puisi – PBP Publishin 2015), dan “Suara Dari Lembah Kata-Kata” (Antologi Puisi -2016).

Perjalanan yang cukup panjang sedari belajar secara otodidak hingga aku menyadari, menulis itu perlu tahu juga tekniknya, lalu ikut kelas menulis cerita pendek Leila S. Choduri. Sampai akhirnya Desember 2024, aku merilis novel berjudul Bolian Sera, yang diterima di MIWF 2025.

3. Apa arti menjadi Emerging Writer MIWF 2025 untuk kamu secara pribadi?

MIWF 2025 sangat berarti buatku. Sudah lama aku mengikuti berita-berita MIWF di sosial media. Aku suka banget dengan tema workshop dan materi diskusi yang ada di MIWF. Sayang banget belum bisa hadir secara langsung karena tempat tinggalku jauh dari Makassar. Barangkali kalau aku tinggal di Makassar, bakal setiap hari aku menyambangi MIWF.

4. Apa tema atau isu yang paling sering diangkat dalam karya-karya kamu, dan mengapa itu sangat penting?

Hmm… Tidak sesering itu, tapi rata-rata tentang perempuan dan tradisi. Terutama tradisi suku Mongondow. Aku merasa, tradisi di Nusantara memiliki daya tarik tersendiri dan sudah seharusnya diketahui oleh banyak orang, agar nilai-nilai yang perlu dijaga tidaklah pudar. Menurutku, semakin banyak penulis yang mengangkat isu ini, maka akan semakin banyak pula pembaca yang mendapat informasi mengenai pegeseran dalam tradisi itu. Ini menjadi penting bagiku apalagi ketika isu tradisi itu beririsan dengan perempuan atau ada peran perempuan di dalamnya.

5. Apakah identitas lokal atau budaya di tanah kelahiran selalu hadir dalam karya-karya kamu? Jika iya, bagaimana cara meramu unsur lokalitas ini?

Ya! Selalu ada karena identitas lokal mulai memudar di era digitalisasi ini. Padahal kekayaan tradisi dari satu daerah merupakan hal menarik untuk dikaji lebih dalam. Aku merasa, harus ada orang yang bergerak untuk menjaga hal itu supaya orang lain aware (sadar) dengan budaya lokal.

Caraku meramunya adalah dengan meleburkan nilai tradisi dengan nilai lain yang seharusnya tidak perlu bahkan tidak bisa dibenturkan, seperti dengan nilai agama. Itu yang aku tuangkan dalam novelku, Bolian Sera. Banyak tantangannya memang. Proses menyatukan karya sastra dan fakta (data) tradisi memang membutuhkan tenaga ekstra.

6. Apakah ada tantangan yang sering kamu hadapi saat menulis, dan bagaimana cara mengatasinya?

Nyambung dengan pertanyaan sebelumnya. Aku menyebut, “membutuhkan tenaga ekstra” karena menulis adalah kerja soliter. Tidak ada tim. Tantangannya ialah mendorong diri sendiri untuk mengulik isu lebih dalam.

Cara mengatasinya ialah mendisiplinkan diri sendiri. Kadang, aku terganggung ketika mengulik terlalu detail. Pada akhirnya aku ribet sendiri. Padahal tulis saja dulu. Banyak benturan antara imajinasi dan hasil risetku. Tapi memang, setiap penulis perlu menemukan caranya masing-masing untuk mengatasi hal ini.

7. Dari semua karya yang pernah ditulis, adakah yang kamu anggap sangat personal? Bisa ceritakan?

Pada dasarnya, semua karya sastra pasti personal dan tidak bisa dipisahkan dari penulisnya. Bagiku, tulisanku adalah tempat aku menelanjangkan diri. Dari semuanya, barangkali yang sangatlah personal adalah cerita perjalanan yang aku tulis di blog pribadi.

8. Kembali berbicara tentang MIWF, apa kamu pernah mendengar event tersebut? Jika pernah, apa yang terlintas dalam pikiran saat mendengar MIWF?

Pernah dong. Sejak bertahun-tahun lalu. Ada kawan yang lolos Emerging Writer dan rasanya sangat membanggakan. Sejak saat itu, aku selalu membayangkan, satu saat kelak, salah satu karyaku akan lolos kurasi MIWF. Dan akhirnya, tahun 2025 adalah waktunya.

9. Bagaimana kamu melihat peran sastra dalam merespons isu-isu sosial atau politik hari ini?

Dari zaman ke zaman, karya sastra menjadi corong yang kuat untuk membangkitkan semangat perlawanan. Pram (Pramoedya Ananta Toer, red.) tidak mungkin diasingkan bila tulisan-tulisannya tidak berpengaruh, namun dalam pengasingan sekali pun, kata-katanya tidak mati. Sesuatu yang lahir dari hati, tidak dapat dibungkam oleh apa pun karena sasta memiliki kekuatannya sendiri.

10. Tidak lengkap rasanya kalau tidak berbicara tentang inspirasi. Siapa penulis yang paling memengaruhi gaya dan cara menulis kamu?

Setiap idola ada fasenya. Ada fase ketika Ayu Utami, Oka Rusmini mempengaruhi gaya kepenulisan saya. Berakhir fase itu, masuklah fase ketika membaca “Laut Bercerita” karya Leila S. Chudori. Setiap penulis dalam fase itu pastilah berpengaruh pada gaya menulisku mulai dari pemilihan diksi sampai alur.

11. Apa harapan kamu terhadap dunia sastra di Indonesia, khususnya bagi para penulis-penulis muda?

Menulis adalah pekerjaan sepanjang hidup. Menulis bukanlah pekerjaan yang istilahnya “kalau lagi pengen-pengen aja”. Seorang penulis harus menyadari hal itu. Maka, mau seperti apa pun karyanya, percaya diri saja. Kelahiran satu karya sama dengan kelahiran satu anak manusia. Setiap karya memilik jalan dan takdirnya masing-masing. Hanya tetap menulis adalah kunci untuk terus menghidupkan dunia sastra di Indonesia. Tulis saja apa yang ingin kamu sampaikan. Tulis saja apa yang ada di kepalamu.

Hal penting lainnya ialah membaca! Membaca adalah bahan bakar untuk menulis.

12. Pertanyaan terakhir, bisa sebutkan tiga judul buku favorit kamu!

Pertama, “Lelaki Harimau” – Eka Kurniawan. Plotnya keren! Aku belajar merancang plot dari buku ini. Kedua, “Rara Mendut” – YB Mangun Wijaya. Ini merupakan cerita trilogi. Cerita tentang tiga generasi perempuan yang punya peran besar di Jawa. Ketiga, “Pulang” – Leila S. Chudori.

Di MIWF 2025, Nany Diansari Korompot menjadi salah satu pembicara dalam program “In Conversation with Emerging Writers MIWF 2025” yang berlangsung pada Minggu 1 Juni 2025 pukul 16.00 – 18.00 WITA.

Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, termasuk program Emerging Writers, didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) RI, melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

 

Penulis : Christina Mutiarani Jeinifer Sinadia

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top