14 - 17 Mei 2026

re-co-ordinate

Seruan untuk secara kolektif menentukan saling dan silang koordinat. Tema ini mengajak kita mempertanyakan koordinat sejarah, budaya, dan politik yang kita warisi, serta membaca ulang dan menggugat struktur-struktur dominan yang membentuk dan/atau merusaknya.

 

Tema MIWF 2026 hendak mengajak kita untuk melihat multikrisis yang sedang kita hadapi saat ini bukan semata sebagai kegagalan kebijakan, melainkan juga sebagai kegagalan koordinasi. Bukan semata sebagai kegagalan rasional, namun juga sebagai kegagalan relasional. Tidak ada koordinat yang berdiri sendiri; setiap titik bertumpu pada relasinya dengan yang lain, sebagaimana komunitas, ekosistem, dan bangsa.

 

Di tengah krisis iklim dan ekosida, genosida dan batas politik yang berubah, serta homogenisasi budaya yang mengancam keragaman, re–co–ordinate mengundang kita memetakan ulang posisi, titik tumpu, dan arah hadap. Semesta alternatif harus dibangun dengan etika kepedulian, solidaritas, praktik-praktik reparatif kolektif, ketangguhan emansipatif, dan keadilan sebagai titik koordinat utama. Keadilan yang melampaui relasi antroposentrisme. Keadilan biosentris; keadilan yang meletakkan kehidupan sebagai titik pusatnya.

Direktur dan Co-Direktur MIWF 2025

Kami dengan bangga mengumumkan dua sosok yang luar biasa ini untuk memimpin festival kita ke tingkatan baru: M. Aan Mansyur, yang telah menemani perjalanan MIWF serta perkembangan dunia sastra kita, dan Ilda Karwayu, penulis berbakat dari Lombok, akan mendampingi festival kita untuk membuka kemungkinan-kemungkinan sastra dan literasi di masa mendatang.

Mengapa kita memilih M. Aan Mansyur dan Ilda Karwayu untuk peran ini? Jawabannya sederhana: mereka memiliki dedikasi mendalam terhadap sastra, serta visi yang inspiratif untuk memajukan dunia sastra di Makassar dan kawasan Indonesia Timur.

Kami sangat bersemangat untuk melihat MIWF terus mengembangkan diri bersama M. Aan Mansyur dan Ilda Karwayu. Bersiaplah untuk pengalaman sastra yang lebih mendalam, seru, inspiratif, dan menggugah di Makassar International Writers Festival tahun depan! 📖🌟 

Kurator MIWF 2025

Margareth Ratih Fernandez

Ratih adalah lulusan Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta asal Kupang, yang saat ini bekerja sebagai editor lepas untuk beberapa penerbit dan media online. Ia juga aktif menjadi pengelola Sekolah Pemikiran Perempuan dan kolektif Perkawanan Perempuan Menulis.

Ia sesekali menulis baik fiksi maupun nonfiksi. Tulisan-tulisannya terkait isu-isu ketegangan identitas, gender, dan budaya pop dapat diakses di medium.com/@margiefz.workstuff. Tulisannya juga telah dimuat di beberapa antologi, seperti kumpulan cerpen “Tank Merah Muda”, kumpulan cerpen “Berita Kehilangan”, dan “Kronik 65”. Sementara itu, beberapa cerpen dan esai miliknya dapat dibaca di beberapa media online seperti: magdalene.co, bacapetra.co, dan membacasoedjatmoko.com.

Mariati Atkah 

Mariati Atkah menulis puisi, esai, dan cerita anak. Ia merupakan emerging writer Makassar International Writers Festival (MIWF) 2013. Menjelang akhir tahun 2019, ia terlibat dalam residensi bertajuk Weaving Stories, program kemitraan Rumata’ ArtSpace dengan British Council Indonesia untuk mengeksplorasi bentuk-bentuk baru tradisi penceritaan di Indonesia. Dari program ini, terbit buku anak berjudul Tenri dan Kisah Jari-Jari (2020). Buku puisi tunggalnya yang berjudul Selama Laut Masih Bergelombang (2020) diterbitkan oleh Gramedia Pustaka Utama dan menjadi salah satu nomine Penghargaan Sastra kategori puisi yang diadakan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi pada tahun 2021. Saat ini ia bermukim di Kota Ternate.

Nabil Wibisana

A. Nabil Wibisana bergiat di Komunitas Sastra Dusun Flobamora. Latar belakang pendidikan formalnya adalah Ilmu Hubungan Internasional dan Sastra Inggris. Selain menulis esai dan puisi, ia juga menerjemahkan, dengan minat khusus pada penerjemahan karya sastra Amerika kontemporer. Buku terjemahannya antara lain Kuda Poni Merah (2019) dan Lembah Salinas (2022). Diundang menghadiri Temu 1 Sastrawan NTT tahun 2013 di Kupang dan Temu 2  Sastrawan NTT tahun 2015 di Ende. Tahun 2017, terpilih sebagai salah satu emerging writer di Ubud Writers & Readers Festival (UWRF), Bali. Mengikuti pelatihan instruktur literasi tingkat nasional tahun 2018 di Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Jakarta. Kini ia bekerja sebagai editor di Penerbit Dusun Flobamora, Kupang dan redaktur puisi di Bacapetra.co, Ruteng.

SPONSOR

[custom-twitter-feeds feed=1]
Scroll to Top