MAKASSAR — “Saya merasa sedang turut serta dalam proses perjuangan bersama seluruh masyarakat Papua menuju situasi hidup yang lebih adil, lebih bermartabat, lebih damai, walau hanya dengan jalan menulis cerpen. Ada realitas-realitas tak terlihat, tak tersentuh, tak dianggap, tak dirasakan sebelumnya, yang bisa diangkat, didengar, dirasakan, dipahami oleh semua orang di luar sana,” ungkap Topilus B. Tebai, salah satu Emerging Writer di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, dalam wawancara khusus bersama Tim Relasi Media MIWF, Senin (19/5/25).
Sosok yang berprofesi sebagai guru tersebut telah menulis beberapa buku sastra. Tiga buku kumpulan cerpen yang pernah diterbitkannya adalah “Aku Peluru Ketujuh” (2017), “Nemangkawi” (2020) dan “Perempuan Penyembah Malaikat” (2023). Ia turut buku kumpulan dongeng asal Dogiyai, “Amoye Melawan Anak Raja Iblis dan Dongeng-dongeng Lainnya” di tahun 2022. Karya terbatunya yakni novel “Sihir Leluhur” terbit tahun ini.
Sebagai cerpenis asal Papua, Bastian—demikian sapaan akrabnya—menjadikan cerpen sebagai sarana untuk menyampaikan realitas sosial yang tidak dapat dijelaskan melalui media sosial atau pun narasi kekuasaan. Sewaktu dihubungi, Bastian sedang mengungsi dari tempat tinggalnya di Moanemani, Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua, ke rumah kerabatnya untuk menghindari konflik senjata antara TPNPB dan TNI, yang mulai pecah sejak Jumat, 16 Mei 2025 lalu.
Kendati begitu, ia tetap meluangkan waktu untuk diwawancarai secara daring, sekalipun dengan kondisi yang tidak kondusif, seperti ketegangan sosial dan jaringan internet yang tidak memadai. Berikut ini hasil wawancaranya.
1. Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan menulis kamu sebelum terpilih sebagai Emerging Writer untuk MIWF 2025?
Awal saya menerbitkan tulisan yang diterbitkan di media itu sejak SMA. Sebelumnya hanya di mading (majalah dinding, red.). Tapi sejak di kelas 2 (SMA), tahun 2011, untuk pertama kali tulisan saya dimuat di media cetak, Papua Post, Nabire. Di sekolah juga, kan ada majalah sekolah, jadi saya juga bergabung untuk menerbitkan majalah sekolah. Setelah tahun 2012, selesai dari SMA, saya melanjutkan Pendidikan ke Jogja, untuk kuliah di sana. Jadi, sambil kuliah di sana, saya juga menjadi kontributor berita di media online dari papua, majalah Selangkah.com.
Saya menulis cerpen itu pertama kali di sana (Selangkah.com). Cerpen pertama saya itu berkisah tentang perjalanan saya sendiri ke Jayapura, tapi dicampur dengan fiksi yang lain, jadi di situ saya juga mendapat banyak masukan. Semacam itu, dari guru Bahasa Indonesia saya. Sehingga cukup membuat saya dapat banyak masukan di cerpen pertama itu.
Majalah selangkah itu media online yang didirikan oleh wartawan senior saat itu di Papua. Pimpinan redaksinya saat itu adalah pak Yeremias Degei, kebetulan guru bahasa Indonesia saya di SMA. Jadi, begitu selesai dari SMA, beliau mengajak saya gabung menjadi kontributor untuk media yang dia pimpin. Jadi saya lebih mengembangkan skilL menulis cerpennya di sana. Setiap minggu paling tidak satu cerpen saya coba isi.
Hasil dari cerpen yang saya muat di majalah Selangkah itu yang kemudian sebagian besarnya saya terbitkan jadi buku kumpulan cerpen pertama. Buku kumpulan cerpen pertama itu terbit tahun 2017. Judulnya, Aku peluru ke tujuh. Buku itu diterbitkan saat saya masih di Jogja, sewaktu kuliah di jurusan Ekonomi Manajemen, Universitas Teknologi Jogjakarta.
2. Apa tema atau isu yang paling sering diangkat, dan mengapa itu sangat penting?
Secara keseluruhan, baik di buku cerpen yang pertama, “Aku Peluru ke Tujuh” itu, juga di buku cerpen yang kedua, lalu di buku cerpen yang ketiga, tema-tema yang sering muncul itu tentang situasi sosial Papua secara umum. Seperti marginalitas, ketersingkiran orang asli Papua, konflik antara TPNPB dengan TNI, yang juga berdampak ke situasi yang lain. Karena memang isu-isu seperti ini yang lebih sering muncul. Juga karena memang menurut saya, karya sastra bisa lebih jadi saluran untuk mengekspresikan diri atau menarasikan apa yang terjadi.
3. Apakah lokalitas dan kompleksitas Papua selalu ada dalam karya-karya kamu? Bagaimana meramunya?
Menurut saya, bila melihat kembali cerpen-cerpen yang selama ini saya hasilkan, secara keseluruhan menampilkan identitas lokal, spritualitas lokal dan budaya serta situasi sosial, ekonomi dan politik. Bila ditanya bagaimana cara saya meramu unsur lokalitas tersebut di dalam karya? Saya akan menjawabnya begini, bahwa saya sebenarnya tidak terlalu sulit meramunya. Begitu saya memahami teknik menulis cerpen secara ilmu, maka begitu saya menulis cerpen, yang keluar adalah apa yang saya amati, lihat, rasa, dengar, baca, alami, dan pahami. Saya bukan orang luar. Saya orang Papua yang hidup, bergulat, tiap hari menghidupi situasi-situasi ini. Jadi ia dengan sendirinya mengalir begitu saja. Karena itu, saya juga memiliki keyakinan bahwa cerpen-cerpen yang saya hasilkan agak sulit untuk dipahami dan dimengerti oleh mereka di “luar” yang belum mengenal “Papua”. Bagi yang pernah “bersentuhan” dengan Papua, pasti lebih mudah menikmati cerpen-cerpen saya.
Saya juga, sebenarnya berusaha menampilkan apa adanya Papua dengan kompleksitasnya. Mungkin akan terlihat surealis bagi yang menikmatinya dari “jauh” tapi sangat realis bagi yang di Papua. Jadi seluruh unsur lokalitas itu bukanlah bahan tambahan buat meramu cerpen, tapi justru menjadi inti yang ingin disampaikan supaya didengar, dipahami, dimengerti, diakui. Salurannya adalah melalui karya sastra seperti cerpen ini, dan melalui media lain oleh beberapa seniman lainnya.
4. Apakah ada tantangan yang sering kamu hadapi saat menulis, dan bagaimana cara mengatasinya?
Tantangannya banyak. Pertama, soal listrik. Walaupun tinggal di ibu kota kabupaten, listrik lebih sering padam. Berikutnya soal dana untuk proses penerbitan dan percetakan buku. Sulit mendapatkan sponsor yang mendukung proses kami menerbitkan buku.
Ketiga, soal penerbit yang mau bekerjasama dengan kami menerbitkan buku, apalagi yang isinya memuat lokalitas. Kadang dipersulit dalam proses mendapatkan ISBN. Saya sendiri, di awal proses menerbitkan buku pertama dan kedua, masih sempat mengalaminya. Beberapa penerbit pernah menolak naskah saya untuk diterbitkan. Mungkin karena kualitasnya masih belum memenuhi standar penerbit, dan saya berusaha untuk memperbaiki kualitasnya sejak saat itu. Tapi pengalaman ditolak masih ada sampai sekarang.
Empat, di Papua, menurut pengamatan saya, apresiasi sastra masih belum berkembang. Karya-karya sastra di Papua lahir dan dibiarkan begitu saja tanpa ada apresiasi dan kritik. Jarang ada mahasiswa sastra misalnya, menjadikan karya kami sebagai bahan kajian, dosen dosen sastra misalnya, mengangkatnya dalam tulisan akademis, dan lain-lain. Ini membuat karya-karya kami terabaikan.
Minat baca juga rendah di sini, tegak lurus dengan kualitas pendidikan formal di sini yang cukup rendah, juga disebabkan karena berbagai faktor. Imbasnya macam-macam. Kami misalnya, hanya bisa menerbitkan buku secara mandiri, menjualnya sendiri, tapi tidak banyak yang beli. Sehingga hampir tak ada keuntungan secara finansial dari aktivitas kami menulis karya sastra.
Hal berikutnya adalah soal keamanan diri. Karya kami, bahkan walaupun itu karya sastra, sering dikaitkan dengan aktivitas gerakan Papua Merdeka di Papua.
5. Dengan kondisi yang demikian ruwetnya, apa alasan terkuatmu untuk tetap melanjutkan aktivitas kesastraannya?
Bagi saya secara pribadi, karena menulis, terutama menulis cerpen adalah salah satu cara yang bisa saya upayakan dan lakukan sebagai anak Papua dalam situasi seperti ini. Berbagai hal yang tidak terungkapkan, tidak terdengar, tidak terlihat, termasuk pergulatan-pergulatan dan konflik-konflik batin orang Papua yang menghidupi kompleksitas hidup di Papua, bisa menemukan salurannya melalui cerpen.
Bagi saya pribadi, meneruskan hal-hal ini kepada publik melalui cerpen, adalah cara kreatif yang menantang. Saya harus terus menerus belajar dan makin mampu menyelami realitas, untuk semakin mampu menghasilkan cerpen-cerpen yang lebih kuat.
Saya mengerti bahwa memang dibandingkan dengan para penulis cerpen di luar sana, yang saya hasilkan dari berbagai sisi mungkin belum seberapa, tapi ada kebanggaan, bahwa pengetahuan dan pemahaman menulis cerpen yang tidak seberapa itu, bisa dikelola menjadi suara kaum tak bersuara di sini. Saya merasa sedang turut serta dalam proses perjuangan bersama seluruh masyarakat Papua menuju situasi hidup yang lebih adil, lebih bermartabat, lebih damai, walau hanya dengan jalan menulis cerpen.
Keterpanggilan untuk menjadi saluran dan sekaligus kebanggaan karena telah dan sedang menjadi bagian dari gerak langkah bersama yang masih aktif, menuju kehidupan yang lebih baik di masa depan; ini yang mungkin jadi pendorong jalan saya.
6. Dari semua karya yang pernah ditulis, adakah yang kamu anggap sangat personal? Bisa ceritakan?
Ada beberapa karya cerpen yang lebih personal, tapi saya memilih untuk tidak mempublikasikannya. Satu yang ada sedikit keterkaitannya, dimuat di buku kumpulan cerpen “Perempuan Penyembah Malaikat” yang saya sertakan dalam seleksi MIWF 2025 kemarin bulan Februari dan terpilih.
Cerpen itu berkisah tentang konflik batin seorang ayah yang bergulat dalam situasi dilematis. Di sana dikisahkan anaknya yang pertama sakit di Yogyakarta, sebuah kota yang bahkan tidak mampu dia bayangkan. Sakitnya parah dan harus dioperasi. Ia tak punya uang sebesar yang dibutuhkan buat membiayai pengobatan anaknya. Ia hanya punya tanah yang bisa dijual agar bisa dapat hasil cepat guna biayai pengobatan anaknya.
Di sisi lain, ia tahu bahwa menjual tanah berarti menjual leluhur yang dikubur dan menyatu dengan tanah. Ada ajakan iman Katolik juga melalui gerakan tungku api kehidupan agar tidak menjual tanah, hidup dari olah tanah, dan jangan menjualnya. Pergolakan batin itu berangkat dari kisah nyata yang dialami orangtua dari siswa saya. Tentu tidak semua yang di cerpen itu fakta. Sebagai karya sastra, ia sudah dipoles, tapi cerpen itu memiliki kesan kuat bagi saya.
7. Bagaimana kamu melihat peran sastra dalam merespons isu-isu sosial atau politik hari ini?
Saya, khususnya dalam konteks kami di Papua selama ini, belum melihat sastra berperan lebih kuat dalam merespon isu-isu Papua. Itu juga karena seperti yang saya ceritakan tadi. Di Papua, iklimnya belum terbentuk. Masih belum ada antusiasme bahkan dari akademisi dan mahasiswa sastra sekalipun, dalam menyambut buku-buku sastra terbaru, misalnya, dengan mendiskusikan, membedahnya, mengkritik dan mengapresiasi, mengulasnya, dan lain-lain.
Ruang bagi kritik sastra, apresiasi sastra, belum banyak, bahkan belum ada. Tapi saya yang pernah di luar Papua, tahu bagaimana peran sastra di luar sana memiliki peran dan pengaruh yang kuat sebagai salah satu unsur pembangun jiwa, pembentuk kepekaan sosial dan berperan dalam proses humanisasi. Jadi, apa karena situasinya begitu lalu kami di Papua harus merasa bahwa agak sia-sia juga menulis karya sastra saat ini?
Saya tidak menganggap begitu. Saya ingin dan berharap supaya bersama-sama dengan semakin tumbuh dan munculnya karya-karya sastra di Papua, ada realitas-realitas tak terlihat, tak tersentuh, tak dianggap, tak dirasakan sebelumnya, yang bisa diangkat dan kemudian itu didengar, dirasakan juga, dipahami, oleh semua yang di luar sana. Saya juga berharap agar seiring berjalannya waktu, dengan proses-proses yang ada, banyak otang bisa turut menyelami suara-suara terpinggirkan dari karya-karya sastra Papua.
Saya berharap, dengan karya-karya sastra Papua ini dibaca, ada kepekaan rasa yang terbangun, kepekaan sosial yang terasah, dan kemudian membuat manusia menjadi saling terhubung dalam perasaan kemanusiaannya dengan sesama manusia lainnya, termasuk di sini, dengan orang-orang di Papua.
8. Siapa penulis yang paling mempengaruhi gaya dan cara menulis kamu?
Pak Yermias Degei, dia guru bahasa dan sastra Indonesia saat di SMA, pemimpin redaksi Majalah Selangkah online yang sudah saya ceritakan sebelumnya. Dari para penulis sastra Indonesia, saya senang membaca karya-karya Pramoedya Ananta Toer.
9. Sebutkan tiga judul buku favorit kamu?
Novel “Bumi Manusia” dan “Anak Segala Bangsa”, juga “The Righteous Mind” karya Jonathan Haidt.
Di MIWF 2025, Topilus B. Tebai menjadi pembicara di beberapa program. Antara lain “Anak-Anak Adat di Perbatasan yang Liar” yang berlangsung pada Jumat 30 Mei 2025 pukul 10.00 – 12.00 WITA, serta “In Conversation with Emerging Writers MIWF 2025” pada Minggu 1 Juni 2025 pukul 16.00 – 18.00 WITA.
Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, termasuk program Emerging Writers, didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) RI, melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.
Penulis : Rahmat Rizki

