[Wawancara Khusus Emerging Writer MIWF 2025] Makassar dalam Bait dan Ingatan: Kota dan Kesadaran Sosial Alghifahri Jasin

MAKASSAR — Alghifahri Jasin atau akrab disapa Agi merupakan penulis, aktor, dan pengajar Bahasa Indonesia di Makassar. Lulusan Sastra Indonesia ini terpilih sebagai salah satu dari Emerging Writers terpilih di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025. Meski dikenal publik sebagai art performer, ia juga menaruh minat besar pada penulisan fiksi terutama puisi.

Ketertarikan dirinya terhadap cerita membuat dia memutuskan berkuliah di jurusan Sastra Indonesia. Sejak 2017, sehari-hari Agi bekerja sebagai pengajar Bahasa Indonesia di berbagai lini mulai dari bimbingan belajar hingga sekolah.

Kesenangan corat-coret puisi di halaman belakang buku menambah rasa penasarannya terhadap praktik penciptaan puisi. Karya pertamanya adalah kumpiulan puisi “Rencana Penipuan” (2021) tersebar di platform digital. Selang setahun buku puisi “Kunjungan Singkat ke Rumah” diterbitkan oleh Endnote Press (2022 dan 2024).

Selain menulis, praktik seni peran membuat Agi terhubung dengan medium teater, film, dan performance art. Pada medium teater, saat ini ia lebih banyak mementaskan naskah-naskah monolog. Tantangan memerankan karakter di dalam film, baik panjang dan pendek, membuatnya ingin lebih belajar banyak lagi untuk menjadi aktor secara profesional.

Performance art menjadi tempat yang lebih luas bagi untuk berbicara dengan dirinya. Ia menjadi salah satu seniman yang berpartisipasi dalam program Asia Topia (Bangkok, 2024), Undisclosed Territory #14 (Solo, 2024), Indonesia Bertutur (Bali, 2024), dan Makassar Biennale (Makassar, 2023). Agi juga merancang studi labnya sendiri dalam mempelajari isu-isu sosial-politik, lingkungan, dan Makassar.

Lantas bagaimana sosok yang biasa disapa Agi ini memandang dan menjalani kegiatannya di bidang sastra dan seni? Bagaimana pula proses kreatifnya di balik karya-karyanya? Berikut ini wawancara khusus yang dilakukan Tim Relasi Media MIWF dengan Alghifahri Jasin yang dilakukan di Rumata’ ArtSpace pada Sabtu (17/5/2025) pagi.

1. Hai, Agi! Bisa perkenalkan secara singkat tentang dirimu?

Saya senang dengan cerita karena saat kecil, bapakku menyuplai bacaan ke saya termasuk saat saya hendak tidur dengan diceritakan dongeng-dongeng. Saya memutuskan kuliah di Sastra Indonesia dengan niat untuk belajar “Apa itu sastra?”, bukan untuk menulis puisi atau fiksi. Di sekitar Universitas Hasanuddin, saya ikut dengan ruang perpustakaan di luar kampus seperti Katakerja, Kedai Buku Jenny, dan Kampung Buku. Di sanalah saya bertemu dengan isu sastra, kota, sejarah, dan budaya. Selain menulis, di kampus itu saya ikut teater dan bermonolog di sana. Terus bertemu festival-festival monolog seperti Kala Teater. Seni peran menghubungkan saya dengan film dan performance art akhir-akhir ini.

2. Bisa ceritakan sedikit tentang perjalanan menulis kamu sebelum terpilih sebagai Emerging Writer untuk MIWF 2025?

Saya suka mengarang melalui pelajaran Bahasa Indonesia. Guruku bilang “Coba ceritakan pengalamanmu selama libur”. Semua temanku menceritakan pengalaman pulangnya ke rumah kakek neneknya. Saya mengadopsi cerita-cerita mereka lalu mengarangnya menjadi cerita. Dari sana, saya tahu diriku tertarik dengan menulis. Saat SMA, saya mulai tertarik dengan menulis puisi. Saat itu saya menonton film “Gie” (2005). Soe Hok Gie di situ menulis puisi dari catatan-catatannya. Saya serius menulis cerita itu saat pendidikan nonformal di Institut Sastra Makassar dan saya tergabung dalam angkatan pertama. Kelas-kelas di sana mempertemukan saya dengan mentor seperti Alwi Rahman, Aslan Abidin, Aan Mansyur, Dandi Sirimorok yang banyak membuka perspektif saya.

3. Apa arti menjadi Emerging Writer MIWF 2025 untuk kamu secara pribadi?

Emerging writer bukanlah hal yang membuat saya berhenti dan puas untuk pencapaian ini. Saya melihatnya sebagai fase untuk lebih memacu diri saya. Emerging writer memberi privelese ke saya dengan mempunyai tanggung jawab untuk menulis. Kapan saya tidak meneruskan kesempatan ini maka saya akan hilang dalam peredaran dan algoritma sastra atau puisi. Tema MIWF tahun ini adalah “Land and Hand”. Narasi itu membicarakan perampasan ruang dan hidup. Kebetulan puisi yang saya kirimkan itu tentang ruang dan hidup juga. Saya tidak bisa abai dengan persoalan itu karena nenekku tinggal di Jalan Abubakar Lambogo (Ablam) atau Bara-baraya yang sementara terancam dengan penggusuran. Jadi, jika saya tidak punya kepekaan soal itu, saya pikir saya tidak punya empati. Saya mau masuk ke ruang-ruang aktivisme yang lebih jauh dan emerging writer ini menghubungkan saya dengan jalur-jalur aktivisme itu.

4. Apa tema atau isu yang paling sering diangkat dalam karya-karya kamu, dan mengapa itu sangat penting?

Pada 2020, saat pandemi, saya dan istriku memilih untuk menumbuhkan makanan di halaman rumah. Selama itu, saya bertemu dengan isu-isu makanan, perampasan, dan soal-soal agraria. Dari proses itu, cukup menyediakan cermin bagi saya bahwa ternyata soal pangan itu tidak sesederhana yang saya pikirkan. Sejak itu, saya membaca kasus-kasus perampasan. Saya semakin tersadar dan saya posisikan diriku di ambang penggusuran karena nenekku terancam penggusuran dan orang tuaku pernah menghadapi perampasan aset. Akhirnya, hal-hal itu menjadi obrolan keseharianku yang membentuk kecenderunganku dalam menulis puisi.

5. Apakah identitas lokal atau budaya di tanah kelahiran selalu hadir dalam karya-karya kamu? Jika iya, bagaimana cara meramu unsur lokalitas ini?

Saya lahir di Ujung Pandang. Saya tumbuh ketika kota ini berubah nama dari Ujung Pandang menjadi Makassar.
Saat kecil, saya dan orang tuaku selalu mengunjungi Pantai Losari untuk makan kacang dan pisang epe. Ketika saya tumbuh besar, saya merasa ada yang berbeda saat mengunjungi Pantai Losari lagi karena keberadaan penjual kacang yang menjadi sedikit. Lanskap Pantai Losari sekarang ada bangunan, padahal dulunya itu hamparan lautan. Itu cukup membuat saya bertanya, “Ada apa dengan Makassar ini? Mengapa perwajahan Makassar itu berubah?”. Sekarang rasanya bukan Pantai Losari lagi, tapi Beton Losari karena laut yang ditimbun untuk kepentingan daratan yang mereka buat. Hal-hal seperti itu menggores ingatan kecil saya. Ternyata pembangunan di Makassar itu bisa menghancurkan ingatanku dan menciptakan kesedihan bagi saya. Saya memasukkan irisan-irisan ingatan seperti ini ke dalam penulisan puisi dan karya
performance art saya.

6. Apakah ada tantangan yang sering kamu hadapi saat menulis, dan bagaimana cara mengatasinya?

Tantangannya adalah saya tidak tahu kapan berhenti menulis. Seringkali saat memulai menulis, sangat sulit untuk memulainya. Ketika sudah lancar menulisnya, saya bingung di bagian mana saya harus selesaikan puisi ini dan dengan apa saya harus menyudahi satu puisi ini. Itu jadi tantangan karena kerap kali saya punya perasaan besar untuk terus berbicara. Saya tidak tahu apakah yang saya bicarakan di puisi itu sudah selesai atau tidak. Saat belum selesai, saya berpikir “Jangan-jangan puisi ini terlalu cerewet untuk mengatakan banyak hal”. Lalu, tantangan selanjutnya adalah menyunting. Menulis dan menyunting puisi itu adalah dua pekerjaan berbeda. Tantangannya ketika menyunting itu, saya harus menghapus beberapa bait puisi dan saya pikir “Sayang sekali kalau saya hapus ini karena saya mau sekali hal ini ada dalam puisiku”. Kalimat yang saya rasa tidak cocok itu saya simpan lagi dan saya endapkan untuk jadi puisi baru lagi atau tidak. Saya seringkali mengurasi, menyunting puisi-puisiku, tapi tidak membuang seutuhnya. Saya simpan bagian yang dibuang itu ke dalam draf saja dan entah kapan waktu saya akan meninjaunya lagi dan membuatnya menjadi puisi baru.

7. Dari semua karya yang pernah ditulis, adakah yang kamu anggap sangat personal? Bisa ceritakan?

Saya tidak alergi dengan personalitas atau pengalaman personal karena diriku bagian dari suatu sistem yang besar. Saya tidak alergi dengan subjektivitas, tapi catatannya adalah saya perlu mencari hubungan diriku yang sementara ini terhubung dengan realitas apa untuk dijadikan bahan yang dibicarakan dalam puisi. Contoh, “Kunjungan Singkat ke Rumah” itu membicarakan generasi dalam satu rumah. Misalnya, dalam satu rumah ada tiga generasi atau bisa dibilang format sandwich. Selain persoalan ekonomi dalam sandwich generation, ada juga persoalan emosi orang-orang yang tinggal di dalamnya. Menurutku, setiap generasi punya cara pandangnya tersendiri. 

8. Apa yang mendorong kamu terus menulis?

Saya merasa belum selesai dengan kenyataan-kenyataan yang terjadi hari ini seperti ketimpangan dan perampasan karena menurutku itu isu yang selalu kita hadapi. Betapa ugal-ugalannya para pejabat di luar sana menyelewengkan jabatannya sehingga menjadi kekerasan struktural. Saya pikir kita perlu menggugat dan mempertanyakan kehadiran kita saat ini karena sudah ditindas pemerintah. Kita perlu merebut kedaulatan kita dengan aktivitas-aktivitas menulis atau di MIWF yang saya percaya dapat menciptakan satu langkah untuk membangun orang-orang yang terlibat dalam radar kepedulian yang sama. 

9. Kembali berbicara tentang MIWF, apa kamu pernah mendengar event tersebut? Jika pernah, apa yang terlintas dalam pikiran saat mendengar MIWF?

Saya tahu MIWF sejak 2016. Yang paling saya ingat dari MIWF adalah kehadirannya Sapardi Djoko Damono. Di MIWF, saya selalu melihat ada wajah-wajah baru. MIWF konsisten bicara soal warga, inklusivitas, dan kesetaraan yang bisa dilihat dari kampanye no all male panel. 

10. Bagaimana kamu melihat peran sastra dalam merespons isu-isu sosial atau politik hari ini?

Saya senang dengan karya Seno Gumira Ajidarma yang juga saya jadikan objek skripsi. Saya ingat kata-kata Seno, “Ketika jurnalisme tidak bisa bicara, maka sastra harus bicara. Sebab ketika jurnalisme bicara dengan fakta, maka sastra bicara dengan kejujuran”. Saya pikir sastra dan isu sosial itu tidak bisa dipisahkan karena dia melekat. Sastra selalu membicarakan kenyataan-kenyataan yang sedang dialami manusia dan masyarakat yang diolah dengan cerita untuk menjangkau orang-orang yang hidup saat ini. Sastra jadi media sosial (medsos) dari platform yang lain. Di medsos itu ramai sekali isu-isu sosial, tapi kecenderungan kita lupa juga besar. Saya lebih bisa mengingat satu masalah dalam sastra daripada masalah yang berseliweran di medsos karena sastra/fiksi menawarkan cerita untuk menghubungkan kita dengan suatu masalah. Masalah itu bisa jadi sedang kita alami atau buat kita sadar bahwa kita sedang mengalami.

11. Tidak lengkap rasanya kalau tidak berbicara tentang inspirasi. Siapa penulis yang paling memengaruhi gaya dan cara menulis kamu?

Karya-karya Seno itu merupakan kesenangan saya untuk mengetahui isu. Saya senang dengan pandangan dia saat menjadi jurnalis sehingga saya jadi tahu apa yang terjadi di Timor Timur. Soal inspirasi itu cukup sulit saya terjemahkan apakah ada sosok yang jadi patron atau tidak. Saya terinspirasi melalui cerita: bagaimana cerita diolah menjadi kenyataan. Kita sebagai penulis perlu menyajikan “hidangan” yang diambil dari kenyataan yang sementara terjadi menjadi sebuah cerita.

12. Apa harapan kamu terhadap dunia sastra di Indonesia, khususnya bagi para penulis-penulis muda?

Saya berharap sastra bisa banyak dibicarakan di kurikulum karena dalam proses belajar sekarang imajinasi menjadi hal yang sekian. Padahal, dalam pembelajaran kita perlu melibatkan imajinasi. Jika punya kebiasaan menulis, tolong diteruskan karena jangan-jangan itu yang membuat kita sadar, jangan-jangan itu yang membawa kita ke dunia yang lebih luas, dan siapa tahu dari hal tersebut kita mendengar banyak hal yang belum didengarkan.

13. Pertanyaan terakhir, bisa sebutkan tiga judul buku favorit kamu?

  1. “Iblis Tidak Pernah Mati” oleh Seno Gumira Ajidarma
  2. “Coret-Coret di Toilet” oleh Eka Kurniawan
  3. “Selama Laut Masih Bergelombang” oleh Mariati Atkah

Di MIWF 2025, Alghifahri Jasin menjadi panelis untuk program “Ampersan: Melampaui Batas dan Teritori” yang berlangsung pada Jumat 30 Mei 2025 pukul 16.00 – 18.00 WITA, serta “In Conversation with Emerging Writers MIWF 2025” pada Minggu 1 Juni 2025 pukul 16.00 – 18.00 WITA.

Makassar International Writers Festival (MIWF) 2025, termasuk program Emerging Writers, didukung penuh oleh Kementerian Kebudayaan (Kemenkebud) RI, melalui Direktorat Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan.

 

Penulis : Andi Audia Faiza Nazli Irfan

Fotografer : Muhammad Ishaq

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Scroll to Top